
NASIONALTERKINI.COM YOGYAKARTA.Sebuah sanggul bukan sekadar cara menata rambut. Di balik bentuk, teknik penataan, hingga aksesori yang dikenakan, tersimpan pengetahuan tentang tata busana, estetika, dan tata nilai yang tumbuh dalam kebudayaan Yogyakarta.
Pengetahuan itu kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui talkshow “Merawat Sanggul Gelung Ukel Tekuk” dalam rangkaian Ruang Masyarakat Ketemu (RUMAKET) 2026 yang digelar Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta.
Dalam tradisi busana gagrak Ngayogyakarta, Ukel Tekuk merupakan tata rambut perempuan dewasa yang memiliki ciri antara lain sunggar dan lungsen. Penggunaannya dapat dilengkapi berbagai perhiasan sesuai dengan kesempatan dan konteks pemakaiannya.
Secara historis, Ukel Tekuk dikenal di lingkungan Keraton Ngayogyakarta dan digunakan oleh perempuan dengan konteks usia, status, serta keperluan tertentu. Seiring perkembangan zaman, tata rambut tersebut kemudian dikenal dan digunakan lebih luas oleh masyarakat di luar lingkungan keraton.
Talkshow yang dimoderatori Nur Aulia Wijayanti, M.Pd., tersebut mengajak masyarakat melihat Ukel Tekuk bukan hanya sebagai tata rambut tradisional, tetapi sebagai pengetahuan budaya yang memuat nilai, estetika, keterampilan, dan identitas Yogyakarta.
Hadir sebagai narasumber RR. Noor Dwi Artyandari, S.Sos., M.A., penata tari sekaligus penyusun konsep tata rias dan kostum untuk pementasan besar di Keraton Yogyakarta.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Yetti Martanti, S.Sos., M.M., mengatakan pelestarian kebudayaan perlu dilakukan dengan mendekatkan warisan budaya kepada kehidupan masyarakat.
“Warisan budaya akan terus hidup apabila masyarakat tidak hanya mengenalnya sebagai sesuatu yang berasal dari masa lalu, tetapi juga memahami, menggunakan, merawat, dan memberi ruang untuk diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Yetti, Rabu (7/10).
Menurut Yetti, pewarisan budaya tidak cukup dilakukan melalui penyimpanan dan dokumentasi. Masyarakat perlu memiliki kesempatan untuk bertemu dengan pelaku budaya, memahami pengetahuan di balik sebuah tradisi, sekaligus melihat relevansinya dengan kehidupan sekarang.
Semangat tersebut menjadi bagian dari RUMAKET 2026 yang mengangkat tema “Hageganti”. Tema ini menggambarkan kebudayaan yang terus bergerak dan dapat mengalami perubahan bentuk maupun cara penyampaian mengikuti perkembangan zaman, tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya.
“Yang kita rawat bukan hanya bentuk sanggulnya, tetapi juga pengetahuan dan nilai yang menyertainya. Ketika generasi muda memahami mengapa sebuah bentuk budaya hadir dan apa makna di baliknya, maka proses pewarisan akan menjadi lebih kuat,” kata Yetti.
Merawat yang Dekat dengan Keseharian
Ukel Tekuk menunjukkan bahwa pengetahuan budaya dapat ditemukan dalam praktik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Detail penataan rambut, kelengkapan busana, dan penggunaan aksesori memperlihatkan adanya pengetahuan serta aturan estetika yang berkembang dalam budaya Yogyakarta.
Melalui RUMAKET, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta berupaya menghadirkan praktik budaya dalam ruang yang terbuka dan komunikatif. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut menjadi bagian dari proses kebudayaan.
Talkshow “Merawat Sanggul Gelung Ukel Tekuk” diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai komunitas, antara lain PKK Kota Yogyakarta, Karang Taruna Kota Yogyakarta, Pecinta Sanggul Nusantara, Perempuan Berkebaya, STECE Berbudaya, dan Remen Jawi.
Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa merawat warisan budaya dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan keseharian. Mengenal tata busana, memahami makna sanggul, mempelajari keterampilan penataannya, hingga mengenalkannya kepada generasi muda merupakan bagian dari proses pewarisan.
RUMAKET 2026 juga menghadirkan live cooking Kudapan Kicak bersama Ervhy Futicha Suryantari, S.T.P., Maestro Kicak. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri atas TP PKK dari 14 kemantren serta siswa dari SMK Negeri 6 Yogyakarta, SMK Muhammadiyah 4 Yogyakarta, dan SMK Berbudi Yogyakarta.
Kudapan Kicak dan Sanggul Ukel Tekuk merupakan dua entitas budaya Kota Yogyakarta yang saat ini tengah dalam proses pengusulan penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Melalui rangkaian RUMAKET 2026, masyarakat diajak melihat kebudayaan bukan sebagai sesuatu yang berhenti pada masa lalu. Warisan budaya perlu terus dipahami, dipraktikkan, dirawat, dan dikenalkan kepada generasi berikutnya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.Pungkas:Yetti(Aan)
Redaksi =
terkininasional@gmail.com
