
NASIONALTERKINI.COM YOGYAKARTA,Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) memasuki tahun keempat dengan semakin luasnya keterlibatan komunitas dan pelaku wellness dari berbagai daerah di Indonesia. Hingga 1 Oktober 2026, sebanyak 32,1 persen pelaku yang mendaftar berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ketua Umum JCWF GKR Bendara mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan bahwa JCWF mulai berkembang dari kegiatan berbasis lokal menjadi ruang pertemuan pelaku wellness dari berbagai daerah.
JCWF bukan sekadar festival. Kami ingin membangun ekosistem yang mempertemukan masyarakat, komunitas, pelaku wellness, budaya, kreativitas, dan berbagai potensi daerah,” ujar GKR Bendara.
Menurut dia, perluasan keterlibatan pelaku dari luar Yogyakarta menjadi bagian penting dalam membangun jejaring wellness tourism di Indonesia.
Data pendaftaran hingga 1 Oktober mencatat 53 komunitas, institusi, dan fasilitator wellness dengan 84 usulan program. Sebanyak 32,1 persen di antaranya berasal dari luar Yogyakarta, dengan pelaku dari sedikitnya sembilan kota, antara lain Jakarta, Bekasi, Blora, Magelang, Salatiga, Malang, dan Banyuwangi.
“Ini memperlihatkan bahwa wellness memiliki banyak bentuk. Tidak hanya yoga atau aktivitas fisik, tetapi juga menyangkut emosi, hubungan sosial, budaya, kreativitas, alam, dan pengetahuan,” kata GKR Bendara.
Keragaman program JCWF 2026 menjadi salah satu gambaran mengenai luasnya cakupan wellness.
Dari 84 usulan program, kategori Emotional & Social Wellbeing menjadi yang terbanyak, yakni 34 program atau 40,5 persen. Program tersebut antara lain meditasi, sound bath, refleksi, konseling, dan kegiatan yang mendorong koneksi sosial.
Selanjutnya, Cultural Immersion dan Creative Wellbeing masing-masing 11 program atau 13,1 persen. Mindful Movement dan Wellness Knowledge masing-masing 10 program atau 11,9 persen, sedangkan Nature Connection mencapai delapan program atau 9,5 persen.
Menurut GKR Bendara, komposisi tersebut menunjukkan bahwa wellness dapat dikembangkan melalui kekuatan yang sudah dimiliki setiap daerah.
Indonesia memiliki kekayaan budaya, alam, tradisi, gastronomi, jamu, seni, dan pengetahuan lokal. Semua itu bisa menjadi bagian dari pengalaman wellness,” ujarnya.
Perkembangan JCWF tersebut turut dibahas GKR Bendara dalam pertemuan dengan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Yogyakarta, Kamis (01/10/2026).
Dalam pertemuan itu, dibahas penguatan wellness tourism yang berbasis potensi daerah. Menteri Pariwisata juga menyampaikan dukungan terhadap JCWF, antara lain melalui kanal media dan jaringan komunitas wellness di tingkat nasional.
GKR Bendara mengatakan dukungan tersebut membuka peluang lebih luas bagi pelaku wellness dari berbagai daerah untuk saling terhubung.
Kementerian Pariwisata juga mendorong gagasan penyelenggaraan expo bersama berbagai festival wellness di Indonesia, termasuk JCWF dan BaliSpirit Festival. Forum tersebut diharapkan dapat mempertemukan komunitas, pelaku industri, dan destinasi
Memasuki tahun keempat, JCWF mengembangkan konsep “RECONNECT — Reconnecting People, Culture & Wellbeing.”
GKR Bendara mengatakan tema tersebut menjadi pijakan untuk melihat wellness secara lebih luas, yakni melalui hubungan manusia dengan dirinya sendiri, orang lain, budaya, dan lingkungan.
“Dari Yogyakarta, berbagai praktik wellness Nusantara bertemu. Dari pertemuan itu, ekosistem bisa tumbuh,” kata GKR Bendara.
JCWF 2026 dijadwalkan berlangsung pada 6–8 November 2026. Festival tersebut mempertemukan berbagai program budaya, wellness, kreativitas, komunitas, serta produk wellness. Tutup:GKR Bendara(Tyo)
Redaksi =
terkininasional@gmail.com
