
NASIONALTERKINI.COM Pariwisata tidak sedang kekurangan destinasi. Tidak pula kekurangan teknologi. Yang mungkin mulai kita kekurangan adalah keberanian untuk bertanya: untuk siapa sebenarnya pariwisata dibangun?
Pertanyaan tersebut akan menjadi salah satu napas utama World Tourism Day 2026, yang digelar pada Minggu, 27 September 2026, di Phytagoras Hall, Taman Pintar Yogyakarta, pukul 08.30–11.30 WIB.

Mengusung tema “Mendesain Ulang Pariwisata untuk DIY Masa Depan”, forum ini mengangkat tema besar “Transformasi Ekosistem Pariwisata DIY di Era Digital & Artificial Intelligence”, dengan tiga kata kunci:
DIGITALIZE • INTELLIGENCE • HUMANIZE
Bagi DPD PUTRI DIY sebagai penyelenggara, forum ini bukan sekadar agenda memperingati World Tourism Day. Momentum ini dirancang sebagai ruang refleksi sekaligus dialog mengenai arah masa depan pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY, Agus Budi Rachmanto, menegaskan bahwa transformasi pariwisata tidak boleh berhenti pada persoalan teknologi.
Kita tidak sedang berlomba membuat pariwisata semakin canggih. Kita sedang berusaha memastikan agar kecanggihan itu tetap memiliki arah, tetap memiliki rasa, dan tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya. Teknologi boleh menjadi semakin pintar, tetapi pariwisata tidak boleh kehilangan kemanusiaannya.”
Menurut Agus, perubahan zaman seharusnya tidak membuat industri pariwisata meninggalkan akar budaya dan karakter masyarakat yang menjadi kekuatan utama destinasi.
Mendesain ulang pariwisata bukan berarti menghapus apa yang telah kita miliki. Justru kita perlu membaca kembali kekuatan Yogyakarta—budaya, manusia, alam, kreativitas dan kearifan lokal—kemudian menemukan cara baru agar semuanya tetap relevan di tengah perubahan zaman.”
KETIKA AI DATANG, APA YANG HARUS TETAP MENJADI MANUSIA?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika artificial intelligence berkembang begitu cepat.
AI dapat membaca data.
AI dapat mengenali pola.
AI dapat membantu pemasaran.
AI dapat memprediksi perilaku wisatawan.
Namun ada sesuatu yang tidak boleh hilang:
rasa.
Rasa ketika seorang wisatawan disambut sebagai tamu, bukan sekadar angka kunjungan.
Rasa ketika budaya tidak hanya dipertontonkan, tetapi dipahami.
Rasa ketika alam tidak sekadar menjadi objek foto, tetapi dihormati.
Dan rasa ketika masyarakat lokal tidak hanya menjadi pelengkap destinasi, tetapi menjadi bagian utama dari ekosistem pariwisata.
Agus menambahkan:
Kalau suatu hari algoritma mampu mengetahui apa yang diinginkan wisatawan sebelum wisatawan itu sendiri menyadarinya, kita tetap harus bertanya: apakah yang kita tawarkan hanya pengalaman yang nyaman, atau pengalaman yang bermakna? Karena pariwisata pada akhirnya bukan hanya tentang membawa orang ke suatu tempat, tetapi tentang apa yang mereka rasakan, pelajari, dan bawa pulang dari tempat tersebut.”
DARI SMART DESTINATION MENUJU DESTINASI YANG BERJIWA
World Tourism Day 2026 menghadirkan GKR Bendara, Ketua DPD PUTRI DIY, dengan perspektif Digital Destination – Menuju Intelligent Destination.
Kemudian Het Wahyu Nugroho, S.IP., M.Si., Kepala Diskominfo DIY, membahas Artificial Intelligence & Tourism Marketing.
Sementara Eling Priswanto, S.E., M.M., Kepala Dinas Pariwisata DIY, membawa perspektif mengenai SDM, budaya, dan ekosistem pariwisata.
Ketiga perspektif tersebut mempertemukan satu pertanyaan besar:
Bagaimana membangun ekosistem pariwisata yang mampu memanfaatkan kecerdasan teknologi tanpa kehilangan kecerdasan budaya dan kemanusiaan?
Karena destinasi yang cerdas bukan hanya destinasi yang terkoneksi secara digital.
Destinasi yang cerdas adalah destinasi yang mampu memahami manusianya.
BUKAN SEKADAR MENGEJAR ANGKA
Keberhasilan pariwisata selama ini sering dibicarakan melalui jumlah kunjungan, lama tinggal, tingkat okupansi, transaksi, hingga pertumbuhan ekonomi.
Semua itu penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam:
Apa yang terjadi setelah wisatawan pulang?
Apakah masyarakat lokal semakin berdaya?
Apakah budaya semakin hidup?
Apakah lingkungan semakin terjaga?
Apakah pelaku usaha semakin memiliki masa depan?
Dan apakah wisatawan pulang membawa pengalaman yang membuat mereka melihat kehidupan dengan cara yang sedikit berbeda?
Karena pada akhirnya:
Pariwisata yang kita bangun hari ini akan menjadi warisan bagi generasi yang datang kemudian. Karena itu, ukuran keberhasilan kita tidak cukup hanya pada berapa banyak orang yang datang, tetapi juga pada apa yang kita tinggalkan setelah mereka pergi.”
— Agus Budi Rachmanto, Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY
DARI BERBICARA TENTANG MASA DEPAN, MENUJU MENENTUKAN ARAH
Pada hari yang sama, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan MUSDA DPD PUTRI DIY 2026, pukul 13.00–16.00 WIB.
Dengan demikian, 27 September menjadi satu rangkaian perjalanan:
THINK → DISCUSS → DECIDE → ACT
Membaca masa depan.
Merumuskan gagasan.
Menentukan arah.
Kemudian bergerak bersama.
Bagi DPD PUTRI DIY, penyelenggaraan World Tourism Day dan MUSDA dalam satu rangkaian memiliki pesan yang kuat: gagasan tentang masa depan pariwisata harus memiliki ruang untuk diterjemahkan menjadi arah organisasi dan tindakan nyata.
Sebab masa depan tidak lahir hanya dari mereka yang paling cepat beradaptasi.
Masa depan lahir dari mereka yang berani berhenti sejenak, melihat perubahan, bertanya kembali, lalu menentukan ke mana harus melangkah.
YOGYAKARTA: MEMILIKI MASA DEPAN TANPA KEHILANGAN JATI DIRI
Yogyakarta memiliki modal yang tidak sederhana: budaya, sejarah, pendidikan, kreativitas, komunitas, seni, kuliner, warisan budaya, alam, dan masyarakat yang menjadi bagian dari denyut kehidupan destinasi.
Tantangannya bukan sekadar bagaimana membuat Yogyakarta semakin digital.
Tetapi:
Bagaimana membuat Yogyakarta semakin relevan tanpa kehilangan jiwanya?
Di sinilah makna “Mendesain Ulang Pariwisata” menemukan kedalamannya.
Bukan mengganti identitas.
Bukan meninggalkan masa lalu.
Tetapi menghubungkan warisan dengan masa depan.
Menghubungkan teknologi dengan manusia.
Menghubungkan data dengan rasa.
Menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan.
Dan menghubungkan pariwisata dengan kehidupan masyarakat yang menjadi rumah bagi destinasi itu sendiri.
SATU HARI • SATU FORUM • SATU ARAH
World Tourism Day 2026 dan MUSDA DPD PUTRI DIY 2026 menjadi momentum untuk mempertemukan pemerintah, organisasi, pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan pemangku kepentingan pariwisata dalam satu ruang dialog.
Bukan sekadar untuk membicarakan apa yang akan terjadi.
Tetapi untuk bertanya:
Pariwisata seperti apa yang ingin kita wariskan?
Dan mungkin, pertanyaan paling pentingnya adalah:
Di tengah dunia yang semakin digital, jangan sampai kita menjadi sangat sibuk membangun destinasi untuk manusia, tetapi lupa membangun pariwisata yang memanusiakan manusia.”
Karena masa depan pariwisata bukan semata-mata tentang seberapa pintar teknologi yang kita gunakan.
Melainkan tentang seberapa bijaksana kita menggunakannya.
**DIGITALIZE.
INTELLIGENCE.
HUMANIZE.**
Dari Yogyakarta, membaca masa depan.
Dari pariwisata, merawat kehidupan.
Dan dari manusia, untuk masa depan yang tetap manusiawi.(Adira)
Redaksi =
terkininasional@gmail.com
