
NASIONALTERKINICOM. ke:4 — “Ekosistem Bersatu: Dari Peluang Bisnis hingga Strategi Promosi Bersama”
Tiga hari lagi. Siapa yang akan merasakan dampak paling nyata ketika Guangzhou dan India benar-benar terhubung dengan YIA? Jawabannya: ribuan pelaku usaha pariwisata — pengelola taman rekreasi, agen perjalanan, pelaku kuliner lokal, hingga penggiat ekonomi kreatif.Kamis:21/08/2026
Bagi mereka, peluang ini bukan angka statistik, melainkan pertanyaan personal: siapkah usaha mereka menyambut gelombang wisatawan baru? Sesi kedua forum — peluang dan kolaborasi bisnis — hadir menjawab kegelisahan ini, mengajak semua pihak berhenti merebut peluang sendiri-sendiri, dan mulai melihatnya sebagai kue besar yang hanya bisa dinikmati bersama.
Selama ini, pelaku usaha pariwisata sering berjalan dalam koridornya masing-masing. Padahal seorang wisatawan mengalami perjalanannya sebagai satu kesatuan utuh — transportasi, akomodasi, kuliner, destinasi. Maka pertanyaannya: bagaimana menyusun program bersama secara ekosistem, agar peluang Tiongkok dan India ini benar-benar ditangkap bersama? Bagaimana pengelola destinasi berkolaborasi dengan mitra bisnis YIA, agen perjalanan merancang paket wisata terintegrasi bersama maskapai?
Yogyakarta memiliki seluruh bahan baku untuk model kolaborasi semacam ini. Yang selama ini kurang, bukan potensi, melainkan ruang bagi pelaku usaha untuk duduk bersama. Forum ini juga tak menghindar dari sisi menantang: bagaimana pelaku usaha beradaptasi dengan preferensi wisatawan Tiongkok dan India, tanpa kehilangan keaslian lokal yang justru menjadi daya tarik utama.
Dari sini kita melangkah ke sesi ketiga: strategi promosi dan pemasaran destinasi berbasis gerbang YIA. Selama ini promosi pariwisata Yogyakarta sering terpecah — setiap destinasi mempromosikan diri sendiri dengan narasi berbeda, padahal mempromosikan kota yang sama. Di era digital yang padat konten, promosi terpecah berisiko tenggelam.
Di sinilah gagasan co-branding menjadi relevan — bagaimana setiap destinasi mempromosikan diri sebagai bagian dari satu identitas besar bernama Yogyakarta, dengan YIA sebagai gerbang utamanya. Strategi ini membutuhkan pemanfaatan media digital dan data wisatawan yang cerdas, agar promosi benar-benar tepat sasaran, bukan sekadar tersebar luas tanpa arah.
Benang merah dari sesi kedua dan ketiga ini: ekosistem pariwisata yang kuat tidak lahir dari kompetisi yang saling menjatuhkan, melainkan dari kolaborasi yang saling menguatkan. Keberhasilan satu pihak, seharusnya menjadi keberhasilan bagi pihak lainnya pula.
Tiga hari menjelang forum, mari bayangkan masa depan: seorang wisatawan India datang bersama keluarga besar, merasakan satu perjalanan utuh yang dirancang penuh perhatian — dari kemudahan transportasi hingga promosi yang membuat mereka merasa disambut, jauh sebelum menginjakkan kaki di Yogyakarta.oleh=(Adira)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
