
NASIONALTERKINI. COM.YOGYAKARTA. Jogja Fashion Week (JFW) 2026 kembali digelar dengan konsep yang semakin beragam. Memasuki penyelenggaraan ke-21, ajang tahunan fesyen Yogyakarta ini menghadirkan dua show besar dari organisasi fesyen, yakni Indonesia Fashion Chamber (IFC) dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).Kamis:12/08/2026

JFW 2026 menjadi ruang pertemuan desainer, pelaku industri, sekolah mode, mahasiswa, UMKM, komunitas, hingga masyarakat umum. Sejumlah program baru juga disiapkan untuk memperkuat ekosistem fesyen di Yogyakarta.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Daerah Istimewa Yogyakarta, Anton Raharja,, mengatakan penyelenggaraan tahun ini dibuat lebih semarak dengan penambahan sejumlah program yang sebelumnya belum ada.
“Yang spesial tahun ini, fasilitas dan programnya lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Ada sesi khusus SMK, fashion designer muda, mahasiswa, serta show dari iIFC dan APPMI,” ujarnya.
Menurut Anton, kehadiran IFC dan APPMI menjadi salah satu pembeda JFW 2026. Kedua organisasi tersebut akan menampilkan karya sekaligus menghadirkan sejumlah tokoh fesyen dari DIY dalam rangkaian acara.
Selain fashion show, JFW 2026 juga menghadirkan area pameran. Pameran ini menjadi ruang bagi pelaku industri kreatif untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka peluang kerja sama dan pasar baru.
Program Creative Corner turut disiapkan sebagai ruang aktivitas kreatif yang melibatkan brand, institusi pemerintah, sekolah, komunitas, hingga sponsor. Kegiatannya dikemas melalui talk show, presentasi, sosialisasi, hingga fashion show yang berlangsung bersamaan dengan agenda utama JFW2026
Aulia dari tim penyelenggara menjelaskan, Creative Corner dirancang agar pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan fashion show, tetapi juga memperoleh pengalaman dan informasi dari berbagai pelaku industri kreatif.
“Di area ini brand dan institusi bisa melakukan branding, sementara sekolah juga dapat memperkenalkan program mereka. Kegiatannya berjalan bersamaan dengan fashion show sehingga kawasan pameran tetap hidup,” katanya.
JFW 2026 juga memberi perhatian pada regenerasi desainer.
Adoy mengatakan pemerintah ingin membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda, khususnya siswa SMK dan mahasiswa, agar tidak berhenti pada keterampilan menjahit, tetapi berkembang menjadi perancang sekaligus pelaku industri fesyen.
“Anak-anak muda ini harus diberi ruang untuk berkembang menjadi desainer. Kami ingin dari Yogyakarta lahir talenta-talenta baru yang mampu membawa nama Jogja ke tingkat nasional,” ujarnya.
Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat ekonomi kreatif, mulai dari pengembangan desain, produksi, industri hingga pemasaran. Dengan demikian, JFW tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga bagian dari penguatan rantai industri fesyen di daerah.
Sementara itu, Roby Kusuma menilai JFW menjadi bagian penting dari kolaborasi berbagai pihak dalam menggerakkan perekonomian Yogyakarta. Dukungan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, organisasi fesyen, dan media dinilai menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan ekosistem kreatif.
“Jogja Fashion Week harus menjadi instrumen penting untuk mengangkat potensi fesyen Yogyakarta. Ini bukan hanya soal pertunjukan, tetapi bagaimana industri kreatif ikut menggerakkan ekonomi,” katanya.
Dengan hadirnya program baru, pameran, Creative Corner, serta show dari IFC dan APPMI, JFW 2026 diharapkan semakin kuat menjadi etalase fesyen Yogyakarta sekaligus membuka peluang bagi karya lokal menembus pasar nasional dan internasional.
Penyelenggara juga mengajak masyarakat dan media ikut menyebarluaskan informasi seluruh rangkaian JFW 2026 agar ajang ini tidak hanya menjadi ruang bagi pelaku fesyen, tetapi juga dapat dinikmati masyarakat luas.Pungkas:Roby Kusuma(Tyo)
Redaksi
terkininasional@gmail.com
