
NASIONALTERKINI.COM. YOGYAKARTA. Di balik kilau sebuah perhiasan perak, tersimpan proses panjang yang tidak sesederhana yang terlihat. Mulai dari bahan mentah, pembentukan, finishing hingga pewarnaan, setiap tahap membutuhkan keterampilan, ketelitian, serta tangan-tangan terampil para perajin.
Pemilik Borobudur Silver Yogyakarta, Selly Sagita, mengatakan proses pembuatan perhiasan berbahan perak, khususnya pada tahap finishing dan pewarnaan, membutuhkan beberapa tahapan dan tidak bisa dilakukan secara instan.Saat di temui:Senin:10/08/2026


Perak itu tidak bisa langsung dari bahan mentah kemudian menjadi warna yang kita inginkan. Harus diproses menjadi putih atau silver terlebih dahulu. Setelah itu baru bisa masuk ke proses warna lain, seperti rose gold, kuning emas maupun hitam,” ujar Selly.

Menurutnya, pemahaman tersebut penting diberikan kepada masyarakat karena masih banyak anggapan bahwa perhiasan perak mudah berubah warna atau mudah menghitam.

Padahal, kata Selly, perubahan warna pada perak lebih berkaitan dengan proses oksidasi yang dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti cuaca, keringat, maupun kondisi lingkungan.
“Selama ini saya terus mengedukasi bahwa perak tidak luntur. Tetapi perak memang bisa mengalami oksidasi sehingga warnanya berubah. Itu sesuatu yang harus dipahami,” katanya.
Pewarnaan Bukan Sekadar Menyemprot
Selly menjelaskan, proses pewarnaan perhiasan justru menjadi salah satu bagian yang cukup rumit dalam produksi. Perhiasan yang masih berupa logam mentah tidak dapat langsung diberi warna akhir.
Sebagai contoh, bahan berwarna tembaga yang masih mentah terlebih dahulu harus melalui proses finishing hingga berubah menjadi putih atau silver. Setelah itu, barulah dilakukan proses berikutnya untuk mendapatkan warna yang diinginkan.
“Kalau mau menjadi rose gold, kuning emas atau hitam, harus melalui proses lagi. Jadi bukan dari warna tembaga mentah langsung ditembak menjadi warna tersebut. Harus dibuat putih terlebih dahulu, kemudian diproses kembali,” jelas Selly.
Setiap warna juga membutuhkan perlakuan dan cairan yang berbeda. Bahkan, tidak semua tempat mampu mengerjakan seluruh jenis finishing dan pewarnaan tersebut.
“Finishing dan pewarnaan saja sudah membutuhkan tenaga dan proses yang berbeda. Setelah karya selesai dibuat dengan tangan, masih ada proses pewarnaan yang harus dikerjakan orang dengan keahlian khusus,” ujarnya.
Menurut Selly, kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga sebuah perhiasan handmade tidak semata-mata ditentukan dari harga bahan bakunya. Ada keterampilan, waktu, proses produksi dan pengalaman perajin yang ikut membentuk nilai sebuah karya.
Ketika Warna Hitam Justru Menjadi Tren
Menariknya, kekhawatiran masyarakat terhadap perak yang menghitam justru menginspirasi Selly menciptakan inovasi.
Ia pernah berpikir, jika selama ini warna hitam dianggap sebagai kekurangan perak, mengapa tidak menjadikannya sebagai karakter desain?
“Daripada orang takut perak menjadi hitam, saya berpikir, sekalian saja saya buat hitam. Ternyata responsnya luar biasa,” katanya.
Koleksi bros berbahan tembaga dengan finishing hitam justru mendapat sambutan positif. Warna yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari berubah menjadi karakter kuat dalam desain perhiasan.
Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa dunia fashion tidak selalu harus mengikuti pakem lama. Eksplorasi warna justru dapat membuka peluang baru.
Selly melihat perkembangan wastra dan fashion Indonesia saat ini semakin dinamis. Perhiasan tidak harus selalu tampil dalam warna silver atau emas. Berbagai warna dapat dipadukan dengan busana, selama mampu menghasilkan komposisi yang menarik.
“Semua warna sebenarnya bisa di-mix and match. Tinggal bagaimana kita mengolahnya,” ujarnya.
Selain warna silver, Borobudur Silver juga menghadirkan warna tembaga yang kerap disebut konsumen sebagai rose gold, warna kuning emas, serta hitam.
Menjaga Perak Tetap Dekat dengan Dunia Fashion
Selly mengatakan, kondisi pasar fashion saat ini juga mendorong pelaku industri perhiasan untuk lebih kreatif. Di tengah banyaknya pilihan produk fashion, konsumen memiliki pertimbangan terhadap harga.
“Orang sekarang punya banyak pilihan. Mau membeli tas, sepatu atau produk fashion lainnya. Karena itu, perhiasan juga harus hadir dengan pilihan yang menarik dan tidak selalu mahal,” katanya.
Keterlibatan Borobudur Silver dalam berbagai kegiatan fashion, termasuk Jogja Fashion Week, menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan perhiasan dengan perkembangan busana dan wastra.
Menurut Selly, kolaborasi menjadi kunci karena perhiasan dan fashion tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.
Ia bahkan membuka peluang bagi para desainer untuk berkolaborasi dengan Borobudur Silver.
“Teman-teman yang biasa mendesain busana dan wastra, ayo datang ke Borobudur Silver. Kita berkolaborasi. Saya siap berdiskusi dan membuat desain perhiasan yang sesuai dengan kebutuhan koleksi,” tuturnya.
Koleksi Janggan, dari Wastra ke Perhiasan
Salah satu eksplorasi desain yang dilakukan Selly adalah koleksi bros bertema Janggan. Inspirasi tersebut berkaitan dengan busana dan sejarah wastra Jawa yang memiliki karakter kuat dan identitas tersendiri.
Bros tersebut kemudian dikembangkan dengan tambahan rantai yang memungkinkan pemakainya melakukan berbagai eksplorasi gaya.
“Rantainya bisa satu, bisa dua. Warnanya juga bisa macam-macam. Saya ingin orang bebas berekspresi,” ujar Selly.
Eksplorasi tersebut menunjukkan bagaimana perhiasan tradisional dapat dikembangkan menjadi aksesori fashion yang lebih modern tanpa kehilangan karakter budayanya.
Menatap Pasar Internasional
Semangat mengembangkan desain dan produksi juga membawa Borobudur Silver menuju pasar internasional. Selly menyebut pihaknya akan mengikuti pameran di China pada September 2026.
Baginya, keberhasilan bukan hanya soal menjual produk, tetapi juga membuka peluang agar karya perajin Indonesia semakin dikenal.
Jika permintaan meningkat, menurut Selly, dampaknya akan kembali kepada para perajin karena produksi membutuhkan lebih banyak tenaga dan keterampilan.
“Saya berterima kasih kepada teman-teman di dunia fashion yang semakin kompak menghargai dan menerima bahwa kita tidak bisa berdiri sendiri,” katanya.
Ia juga bersyukur atas respons pasar terhadap produk Borobudur Silver dan Kemayu. Sejumlah produk bahkan diminati wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Yogyakarta, termasuk dari Malaysia dan Thailand.
“Responsnya amazing, beyond my imagination, beyond my expectation,” kata Selly.
Semangat Agustus: Apa yang Bisa Kita Berikan untuk Bangsa?
Memasuki bulan Agustus, Selly ingin semangat berkarya tidak berhenti pada perayaan kemerdekaan. Baginya, momentum kemerdekaan harus menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki peran untuk memberikan sesuatu bagi bangsa.
“Pertanyaannya adalah, apa yang bisa kita lakukan untuk negara dan bangsa ini?” ujarnya.
Ia berharap Borobudur Silver tetap eksis, berkembang dan terus menjadi bagian dari perjalanan industri kreatif Yogyakarta, khususnya dalam mempertemukan kerajinan perak dengan dunia fashion.
“Saya ingin Jogja tetap menjadi salah satu perumus fashion dunia,” katanya.
Di tengah kesibukannya, Selly mengaku kini semakin produktif mendesain. Hampir setiap hari ia meluangkan waktu untuk menciptakan gagasan dan mengembangkan desain baru.
Baginya, perak bukan sekadar bahan untuk membuat perhiasan. Di balik setiap karya terdapat proses panjang, kreativitas, keterampilan tangan, serta semangat untuk terus berinovasi.
Dari bahan mentah hingga menjadi perhiasan berwarna elegan, setiap kilau perak pada akhirnya membawa cerita tentang tangan, waktu, kreativitas, dan keberanian untuk terus mencoba.Tutup:Selly(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.co
