
NASIONALTERKINI.COM. YOGYAKARTA.Loman Park Hotel Yogyakarta menghadirkan In-Room Painting Exhibition, menampilkan karya-karya Koko, pelukis otodidak asal Yogyakarta yang memiliki ketertarikan kuat terhadap dunia penerbangan, kendaraan, serta bangunan-bangunan tua.

Pameran khusus tersebut diluncurkan pada Minggu (9/8/2026) pukul 15.00 WIB di Loman Park Hotel Yogyakarta. Kehadiran karya Koko menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman seni yang lebih dekat dengan tamu hotel melalui konsep pameran di ruang-ruang hotel.

Koko lahir dan tumbuh di Yogyakarta dalam keluarga yang memiliki latar belakang seni. Ayahnya merupakan aktor sekaligus pelukis, sedangkan ibunya adalah aktris televisi yang tampil dalam berbagai drama lokal.

Kecintaan Koko terhadap seni mulai tumbuh sejak ia duduk di bangku taman kanak-kanak. Meski sempat berhenti menggambar ketika memasuki masa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, minat tersebut kembali muncul ketika ia menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Saat duduk di bangku SMA, Koko pernah tinggal selama satu tahun di Australia. Di negara tersebut, ia mengerjakan proyek menggambar pesawat siluman (stealth aircraft) masa depan dalam kelas seni. Pengalaman itu turut memperkuat ketertarikannya terhadap dunia penerbangan.
Pesawat terbang, mobil, sepeda motor, hingga bangunan-bangunan tua kemudian menjadi objek yang kerap hadir dalam karya-karyanya. Ketertarikan tersebut tidak berhenti pada lukisan. Koko juga merupakan pilot pesawat layang (glider).
Dari Hobi Menjadi Karya yang Dikoleksi
Sebagai pelukis otodidak, Koko mengembangkan teknik melukis secara mandiri. Ia mengaku tidak memiliki pendidikan formal di bidang seni rupa.
“Kalau saya ini otodidak. Saya hanya coret-coret. Tidak punya dasar seni rupa. Dasar saya justru ilmu dagang,” ujar Koko.

Meski demikian, karya-karyanya telah menarik perhatian kolektor dari Indonesia maupun mancanegara. Beberapa lukisannya bahkan pernah menjadi cendera mata dalam berbagai kegiatan internasional.
Pada 2023, salah satu karya Koko diberikan sebagai hadiah kepada Perdana Menteri Malaysia serta tim aerobatik Angkatan Udara Republik Korea, The Black Eagles, dalam ajang Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition (LIMA) 2023 di Langkawi, Malaysia.

Setahun kemudian, lukisan berjudul “Everlasting Bonding From Yogyakarta” diberikan kepada tim aerobatik Royal Australian Air Force (RAAF) Roulettes.
Sementara pada Mei 2026, lukisan berjudul “The Synchros in Action” dipersembahkan kepada Yang Mulia Sultan Haji Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam dalam rangka peringatan 65 tahun Angkatan Bersenjata Kerajaan Brunei Darussalam.
Kisah di Balik Lukisan Pesawat
Salah satu pengalaman menarik Koko terjadi ketika mengerjakan lukisan pesawat Airbus A400M dan Dakota DC-3 untuk ditampilkan di Halim.
Koko mendapat kesempatan menampilkan lukisannya di Halim selama sekitar dua bulan. Menurutnya, proses pengerjaan salah satu lukisan tersebut berlangsung cukup dramatis.
Dua lukisan yang sebelumnya hampir selesai bahkan sempat mengalami kerusakan sehingga harus dibuat ulang. Untuk lukisan Airbus A400M, Koko mampu menyelesaikannya dalam waktu sekitar tiga hari.
“Karena saya sudah terlanjur berjanji, saya minta waktu 10 hari. Ternyata A400M selesai dalam tiga hari,” tuturnya.
Namun, proses pengerjaan lukisan Dakota DC-3 justru jauh lebih sulit. Koko mengerjakannya di studio di lantai dua rumahnya. Saat mulai melukis pada sore hari, ia mengalami kejadian tidak biasa.
Ketika hendak melanjutkan pekerjaan setelah salat Magrib, lampu di ruang kerja tiba-tiba meledak dan mengeluarkan api. Ia kemudian mencoba menggunakan lampu belajar yang biasa dipakai untuk melukis. Namun, lampu kedua juga mengalami kejadian serupa.
Karena persediaan lampu terbatas, Koko akhirnya menggunakan lampu berdaya rendah untuk menyelesaikan lukisan berukuran besar tersebut.
“Setiap kali saya pegang lukisan itu, rasanya seperti tidak mau dilukis. Baru satu-dua goresan, saya mengantuk. Saya bilang kepada istri, nanti saya kerjakan lagi malam,” ceritanya.
Kondisi tersebut berulang beberapa kali. Bahkan, ketika bangun setelah tidur, waktu sudah mendekati subuh. Kesibukan lain juga membuat Koko hanya memiliki waktu sekitar 15 hingga 30 menit untuk mengerjakan lukisan tersebut.
Menjelang keberangkatan ke Jakarta, Koko bahkan masih menyelesaikan lukisan Dakota DC-3. Ia telah memesan tiket kereta api malam, tetapi kemudian menjadwal ulang keberangkatannya agar masih memiliki waktu untuk menyelesaikan lukisan.
Sekitar pukul 20.30 WIB, lukisan tersebut akhirnya selesai dalam kondisi masih basah. Koko segera melakukan pengepakan, mandi, lalu bergegas menuju Stasiun Lempuyangan.
“Saya waktu itu merasa lukisan ini jelek. Kalau nanti sampai Halim ditolak, ya sudah, saya merasa wajar,” katanya.
Namun, kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Setibanya di Halim, lukisan tersebut justru diterima dan dipasang.
Koko kemudian sempat menghubungi pihak yang menerima lukisan dan menyampaikan keinginannya untuk membuat ulang karya tersebut karena merasa hasilnya belum maksimal. Ia meminta waktu sekitar satu minggu hingga 10 hari untuk membuat versi baru.
Namun, beberapa hari kemudian ia mendapat kabar bahwa lukisan tersebut sudah dipasang.
“Saya sudah bilang, ‘Mas, itu jelek.’ Tapi ternyata lukisannya tetap dipasang,” ujarnya sambil tertawa.
Untuk lukisan Airbus A400M, Koko menyebut terdapat beberapa versi karya. Salah satunya masih berada di rumahnya, sementara versi lainnya ditempatkan di Halim dan lokasi lain.
Lukisan dengan “Penampakan”
Selain objek penerbangan, karya Koko juga memiliki cerita unik lainnya. Beberapa lukisannya, terutama lukisan lanskap, disebut oleh teman-temannya memiliki bentuk-bentuk tertentu yang tampak seperti figur atau sosok.
Koko mengaku awalnya tidak menyadari hal tersebut. Setiap selesai melukis, ia biasanya memotret karyanya dan membagikannya kepada teman-teman yang memahami serta menyukai seni lukis.
“Kadang setelah saya kirim, teman-teman justru memberi tanda lingkaran. Katanya ada gambar singa, macan, tengkorak, dan sebagainya. Saya sendiri awalnya tidak paham,” ungkapnya.
Menurut Koko, fenomena tersebut juga muncul pada beberapa karya lain, termasuk lukisan pesawat. Ia menyerahkan interpretasi mengenai bentuk-bentuk tersebut kepada orang yang lebih memahami seni rupa.
“Apakah itu hanya ilusi atau memang ada bentuk tertentu, saya tidak tahu. Mungkin nanti orang yang memahami lukisan bisa menjelaskannya,” katanya.
Salah satu karyanya yang menggambarkan Lawang Sewu, misalnya, pernah menarik perhatian sejumlah orang. Bahkan, ada beberapa pihak yang menyatakan ketertarikan untuk mengoleksinya.
Namun, lukisan tersebut hingga kini masih disimpan karena keluarga pemilik rumah merasa khawatir jika memasangnya.
Bagi Koko, berbagai pengalaman tersebut justru menjadi bagian menarik dari perjalanan berkaryanya. Ia tidak mengejar pengakuan sebagai pelukis akademis, melainkan membiarkan pengalaman hidup, kecintaan terhadap penerbangan, perjalanan lintas negara, dan imajinasinya berkembang secara alami di atas kanvas.
Melalui In-Room Painting Exhibition di Loman Park Hotel Yogyakarta, karya Koko kembali menemukan ruang untuk berinteraksi dengan publik. Lukisan-lukisannya tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan cerita tentang perjalanan, pengalaman, dan cara seorang pelukis otodidak melihat dunia.Pungkas:Koko(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
