Rab. Jul 22nd, 2026

Bincang Wastra di Museum Sonobudoyo Ungkap Kreasi dan Inovasi Batik Yogyakarta

Bincang Wastra: Kreasi dan Inovasi dalam Batik Yogyakarta yang digelar di Museum Sonobudoyo

NASIONALTERKINI.COM.YOGYAKARTA. Batik tidak hanya menjadi warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tangan para pelestari dan kreatornya, batik terus berkembang menjadi ruang kreativitas yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.

Semangat tersebut mengemuka dalam acara Bincang Wastra: Kreasi dan Inovasi dalam Batik Yogyakarta yang digelar di Gedung Panji, Lantai 2, Museum Negeri Sonobudoyo Unit I, Yogyakarta, Rabu (22/7/2026).

Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta ini menghadirkan sejumlah tokoh yang memiliki kontribusi dalam pelestarian dan pengembangan batik serta wastra Nusantara. Hadir sebagai narasumber GBPH H. Prabukusumo, S.Psi, Ketua Umum Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad, serta GKBRAA Paku Alam (Gusti Putri) Ketua Umum Traditional Textile Arts Society of Southeast Asia.

Diskusi dipandu Karina Rima Melati,dosen STIKOM Yogyakarta sekaligus pemilik Astamewa by Plus Batik.

Kepala Museum Negeri Sonobudoyo, Ery Sustiyadi, S.T., M.A.Kepala Museum dalam sambutannya mengatakan, Bincang Wastra merupakan bagian dari agenda pendukung Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 yang berlangsung hingga 29 Juli 2026.

Pameran tersebut menampilkan 86 koleksi utama dan 22 koleksi pendukung dari 40 institusi, termasuk 36 museum dari berbagai daerah di Indonesia.

“Sebagaimana ditekankan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat membuka pameran, setiap karya wastra menyimpan filosofi, harapan, dan doa yang mendalam,” ujarnya.

Menurutnya, batik sebagai warisan budaya agung Nusantara bukanlah medium yang statis. Batik merupakan karya hidup yang terus berkembang dan berkreasi sepanjang zaman.

Dalam Bincang Wastra kali ini, dua tradisi kreasi batik Yogyakarta dikaji secara berdampingan. Pertama, warisan batik Keraton Yogyakarta yang diperkenalkan melalui karya KRAY Hastungkoro, garwa dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX sekaligus ibunda GBPH Prabukusumo yang dikenal sebagai maestro pembatik.

KRAY Hastungkoro tidak hanya dikenal sebagai permaisuri Sultan, tetapi juga memiliki keahlian mendalam dalam seni batik dan mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan batik Yogyakarta

GBPH Prabukusumo mengatakan,Ibundanya membuat batik bukan semata-mata untuk koleksi pribadi. Karya-karya tersebut juga diberikan kepada teman-teman Sultan, kerabat, dan keluarga.

“Tidak hanya untuk Putra putranya Batik juga dibuat untuk diberikan kepada teman-teman dan saudara-saudara Sultan,” tutur Prabukusumo saat memperlihatkan sejumlah koleksi batik karya Ibundanya.

Ia juga menjelaskan, salah satu kekuatan teknik membatik sang ibunda adalah kemampuannya membuat batik secara langsung tanpa terlebih dahulu menggunakan pola. Setiap karya yang dihasilkan juga mengandung filosofi yang mendalam.

Sejumlah motif yang ditampilkan antara lain motif Gembiraloka dan Parangtritis, yang menunjukkan bagaimana inovasi dapat lahir dari kekayaan ragam hias dan lingkungan budaya Yogyakarta.

Sementara itu, inovasi dalam batik Yogyakarta juga ditunjukkan melalui karya GKBRAA Paku Alam. Gusti Putri membikin batik dengan menggali inspirasi dari naskah-naskah kuno Pura Pakualaman.

Dalam kesempatan tersebut, Gusti Putri memperlihatkan sejumlah karya batik yang dibuat secara khusus untuk keluarga, termasuk karya yang dipersembahkan bagi putra keduanya.

Salah satu karya tersebut mengangkat tema “Melanjutkan Doa melalui Ikatan Suci”. Batik itu dibuat untuk pernikahan putra keduanya dengan mengambil inspirasi dari filosofi dan simbol-simbol kepemimpinan dalam tradisi Jawa.

“Yang saya fokuskan adalah batiknya karena saya sendiri yang membatik. Semua motifnya saya ciptakan sendiri,” ujar Gusti Putri.

foto=salah satu karya Batik Gusti Putri

Ia menjelaskan, salah satu motif yang digunakan terinspirasi dari konsep Batara Indra, yang dalam ajaran kepemimpinan berkaitan dengan kecerdasan, pengendalian diri, serta kemampuan memberikan manfaat.

Karya tersebut dibuat secara khusus untuk pernikahan putra keduanya yang juga memiliki ketertarikan pada dunia akademik dan tengah melanjutkan pendidikan doktoral di Osaka, Jepang.

Gusti Putri juga menceritakan proses pembuatan batik khusus tersebut yang berlangsung selama sekitar dua tahun. Batik itu dibuat menggunakan prodo emas asli dan melalui berbagai tahapan yang penuh ketekunan serta ritual.

“Saya ingin batiknya menjadi sesuatu yang istimewa, tetapi juga menjadi doa bagi anak saya yang menikah agar mendapatkan kehidupan rumah tangga yang langgeng dan keturunan yang baik. Di dalamnya ada doa orang tua,” ungkapnya.

Menurut Gusti Putri, pola batik tersebut diciptakannya sendiri. Ia memilih bentuk-bentuk tertentu yang memiliki makna khusus bagi keluarga pengantin.

“Memang saya menciptakan sendiri polanya. Banyak pola yang bisa digunakan, tetapi saya memilih pola yang memiliki makna khusus untuk keluarga pengantin,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa pembuatan batik untuk keluarga dilakukan secara khusus dan tidak selalu dilakukan setiap waktu.

Bagi Gusti Putri, proses membatik bukan sekadar aktivitas membuat kain bermotif. Setiap goresan canting merupakan ruang untuk menghadirkan doa, harapan, dan nilai-nilai kehidupan.

Melalui kehadiran GBPH Prabukusumo dan GKBRAA Paku Alam, diskusi tersebut menegaskan bahwa batik terus hidup bukan hanya melalui upaya pelestarian, tetapi juga melalui keberanian untuk berinovasi.

Batik Yogyakarta terus bergerak mengikuti dinamika zaman. Motif klasik tetap menjadi akar, sementara kreativitas dan gagasan baru membuka jalan bagi lahirnya karya-karya yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Setiap helai kain pun tidak hanya menyimpan keindahan visual, tetapi juga kisah, filosofi, doa, serta jejak kreativitas yang membuat batik tetap bermakna bagi generasi mendatang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” yang berlangsung hingga 29 Juli 2026.

Melalui forum tersebut, batik kembali ditegaskan sebagai warisan budaya yang tidak berhenti pada masa lalu. Batik terus tumbuh, beradaptasi, dan membuka ruang bagi generasi baru untuk berkreasi tanpa kehilangan akar tradisinya.Tutup Gusti Putri(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *