“Srawung Rasa Nuswantara” Ketika Budaya Menjadi Ruang Healing dan Kebangkitan Komunitas”

foto=Agus Budi Rachmanto, Kurator Pameran sekaligus inisiator Srawung Rasa Nuswantara,

NASIONALTERKINI.COM. Yogyakarta. Peringatan HUT Ke-1 Taman Budaya Embung Giwangan (TBEG) tahun 2026 menghadirkan nuansa berbeda. Tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, rangkaian acara bertajuk “Langkah Budaya – Srawung Rasa Nuswantara” berkembang menjadi ruang refleksi sosial, healing kolektif, sekaligus pertemuan lintas komunitas kreatif dan wellness di Yogyakarta.

Di balik gagasan tersebut, hadir sosok Agus Budi Rachmanto, Kurator Pameran sekaligus inisiator Srawung Rasa Nuswantara, yang melihat budaya bukan sekadar pertunjukan, melainkan energi hidup masyarakat.

Menurut Agus, konsep Srawung Rasa Nuswantara lahir dari kegelisahan terhadap kehidupan modern yang semakin cepat namun semakin jauh dari ruang kebersamaan.

“Hari ini banyak orang kehilangan ruang untuk bertemu secara utuh. Kita sering berkumpul secara fisik, tapi tidak benar-benar hadir secara rasa. Karena itu kami menghadirkan Srawung Rasa Nuswantara sebagai ruang budaya sekaligus ruang healing bersama,” ujar Agus Budi Rachmanto saat ditemui di sela persiapan acara di Graha Budaya Embung Giwangan.

Ia menjelaskan bahwa budaya Nusantara sejak dahulu sebenarnya memiliki nilai wellness yang kuat. Tradisi jamu, meditasi, kebersamaan kampung, ritual seni, hingga ruang rembuk masyarakat merupakan bentuk kesehatan holistik yang diwariskan turun-temurun.

Melalui pameran komunitas, workshop budaya, mindfulness, healing session, bazaar UMKM, hingga pertunjukan seni, Agus ingin menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya dinikmati secara visual, tetapi juga dirasakan secara emosional dan spiritual.

“Budaya itu bukan benda mati. Budaya adalah rasa, napas, dan hubungan antar manusia. Ketika budaya dipertemukan dengan wellness, kita tidak hanya bicara kesehatan tubuh, tetapi juga kesehatan sosial dan kesehatan batin,” tambahnya.

Rangkaian acara HUT Ke-1 TBEG sendiri diisi berbagai aktivitas seperti yoga bersama, donor darah, pottery workshop, bazaar UMKM, pameran komunitas, hingga pertunjukan budaya. Semua kegiatan terbuka untuk umum dan gratis sebagai bentuk pendekatan budaya yang inklusif. �

Agus juga menekankan bahwa keberadaan UMKM dan komunitas lokal menjadi bagian penting dalam ekosistem budaya berkelanjutan. Baginya, wellness tidak bisa dipisahkan dari pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Kalau masyarakatnya sehat tapi ekonominya tidak bergerak, itu belum utuh. Maka kami menghadirkan ruang kolaborasi antara budaya, komunitas, wellness, dan UMKM agar semuanya tumbuh bersama,” jelasnya.

Acara ini juga disebut sebagai langkah awal menuju Road to Jogja Cultural Wellness Festival 2026, sebuah gagasan festival budaya dan wellness yang diharapkan mampu mempertemukan tradisi Nusantara dengan pendekatan kesehatan modern secara lebih luas.

Di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, Agus percaya bahwa ruang budaya seperti TBEG dapat menjadi tempat masyarakat untuk kembali menemukan identitas dan ketenangan.

“Kami ingin Taman Budaya Embung Giwangan bukan hanya menjadi gedung kegiatan, tetapi menjadi rumah rasa. Tempat orang bisa datang, bersrawung, belajar, sembuh, dan tumbuh bersama,” pungkasnya.

Melalui Srawung Rasa Nuswantara, TBEG tidak hanya merayakan ulang tahun pertamanya, tetapi juga menghadirkan pesan penting bahwa masa depan budaya bukan hanya tentang melestarikan tradisi, melainkan menghidupkan kembali hubungan manusia dengan dirinya, komunitasnya, dan alam kehidupannya.Tutup:Agus(Tyo)

Redaksi=

terkininasional@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *