
foto=karya fashion designer Rizz Ashar
NASIONALTERKINI.COM Desainer muda Rizz Ashar menghadirkan koleksi bertema Wanita Modern yang mengangkat semangat kebebasan dan kesetaraan dalam balutan wastra tradisional lurik. Melalui 14 karya yang ditampilkan, Rizz ingin menegaskan bahwa perempuan masa kini tidak lagi terkungkung pada satu peran semata.

“Wanita modern itu tidak harus selalu identik dengan ibu rumah tangga. Perempuan juga bisa berkarier, memiliki mobilitas tinggi, dan tetap tampil stylish,” ujarnya.Sabtu:14/02/2026 di Grand Diamon Yogyakarta

Koleksi ini dirancang dengan konsep gender fluid, sehingga dapat dikenakan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Rizz menghadirkan busana yang fleksibel, nyaman, dan mendukung aktivitas dinamis. Bahkan, beberapa model diperagakan lintas usia, mulai dari anak muda hingga ibu-ibu, untuk menunjukkan bahwa desainnya bersifat universal.

Menggunakan kain lurik sebagai material utama, Rizz melakukan pengembangan motif yang berbeda dari pakem tradisional. Jika lurik identik dengan garis-garis, ia mengolahnya menjadi motif kotak-kotak yang lebih modern. Motif tersebut diberi nama Ashari, terinspirasi dari mendiang sang ayah.
“Ayah saya menyukai warna merah, hitam, dan putih. Dari situlah saya menciptakan motif ini. Semoga karya ini menjadi simbol cinta anak kepada ayah, agar tidak lekang oleh waktu,” tuturnya haru.
Dari 14 karya yang ditampilkan, Rizz membaginya ke dalam dua versi, yakni kasual dan elegan. Busana bernuansa biru tampil lebih simpel dengan potongan bersih dan material yang terkesan mewah. Sementara koleksi berwarna merah hadir lebih youthful, menyasar generasi muda.
Ia ingin membuktikan bahwa lurik mampu menjadi jembatan antara tradisi dan modernisasi. “Saya ingin lurik bisa lintas generasi, menjembatani tradisional dan modern,” katanya.
Tak hanya soal motif, Rizz juga menonjolkan aspek fleksibilitas desain. Beberapa busana dirancang multifungsi, seperti kemeja yang dapat diubah menjadi rok. Potongan yang unik memang menjadi ciri khas styling-nya, namun tetap bisa dikenakan secara lebih sederhana, misalnya hanya sebagai kemeja untuk tampilan yang lebih formal maupun semi-formal.
Dengan pendekatan kreatif tersebut, Rizz Ashar membuktikan bahwa wastra tradisional seperti lurik tidak hanya relevan, tetapi juga mampu tampil progresif, inklusif, dan adaptif mengikuti perkembangan zaman.Pungkas:Rizz Ashar((Tyo)
Redaksi=terkininasional@gmail.com
