
foto=labuhan Merapi
NASIONALTERKINI.COM Tradisi sakral Labuhan Merapi kembali digelar sebagai bagian dari peringatan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-38. Upacara adat ini berlangsung khidmat di kawasan lereng Gunung Merapi,dan diikuti oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa bersama Paring Dalem Surakso Hargo, Mbah Asih, serta abdi dalem Keraton Yogyakarta.Selasa:20/01/2026 Pagi

Prosesi diawali dengan kirab ubarampe yang dibawa dari Pendopo Museum Petilasan Mbah Maridjan menuju Sri Manganti Hargo Merapi. Iring-iringan berjalan tertib, mencerminkan kekhidmatan ritual yang sarat makna spiritual dan filosofi Jawa.

Setibanya di Sri Manganti Hargo Merapi, rangkaian upacara dilanjutkan dengan ritual doa sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan bagi Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Prosesi kemudian ditutup dengan pembagian nasi beserta lauk pauk kepada masyarakat sekitar dan para wisatawan yang turut menyaksikan jalannya upacara.

Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Tak hanya warga lereng Merapi, wisatawan dari berbagai daerah juga memadati lokasi untuk menyaksikan langsung tradisi adat yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa ini.

Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyampaikan rasa syukurnya atas besarnya perhatian publik terhadap pelaksanaan Labuhan Merapi. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya memiliki nilai ritual, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang khas bagi Kabupaten Sleman.
“Labuhan Merapi ini bukan sekadar ritual adat, tetapi juga menjadi magnet wisata budaya. Ini tentu sangat istimewa dan patut kita jaga bersama,” ujar Danang.

Ia menambahkan, Labuhan Merapi merupakan wujud nyata upaya pelestarian budaya atau nguri-uri budaya, sekaligus refleksi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa.
“Bagi masyarakat Jawa, ini adalah bentuk ikhtiar spiritual untuk mendekatkan diri kepada alam dan Sang Pencipta. Kita diajak untuk saling menjaga dan merawat keseimbangan kehidupan,” lanjutnya.

Danang juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata terus melakukan monitoring dan evaluasi agar setiap prosesi adat berjalan sesuai dengan pakem yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Harapannya, Labuhan Merapi tidak hanya lestari sebagai ritual budaya, tetapi juga terus berkembang sebagai atraksi wisata yang edukatif dan bermakna, sekaligus memperkuat identitas budaya Sleman,” Tutup:Danang:(Tyo)
Redaksi=terkininasional@gmail.com
