
NASIONALTERKINI. Wisata wellness di Indonesia masih menjadi konsep yang belum dipahami secara menyeluruh oleh pengelola usaha jasa wisata. Bahkan konsep wellness itu sendiri ditafsirkan dengan perspektif yang berbeda-beda antar pengelola, meskipun definisi dan penjabaran umumnya sudah ada. Hal ini menjadi hambatan utama dalam mengembangkan industri yang memiliki potensi besar, terutama di daerah yang kaya akan budaya dan sumber daya seperti Yogyakarta.

Menurut Joko Paromo, General Manager Hotel Royal Darmo Malioboro, kegiatan wisata wellness memiliki sifat yang sangat tersegmentasi. “Justru seperti mempersempit pasarnya sendiri,” ujarnya. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman umum tentang aktivitas wellness, sehingga diperlukan jembatan komunikasi yang tidak hanya menjelaskan konsep kepada pengelola jasa wisata, tetapi juga kepada orang awam sebagai wisatawan atau pengguna jasa.
Kendala pemahaman ini juga tercermin di lingkup organisasi industri. Menurut Joko, di Persatuan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) belum banyak kegiatan edukatif yang terkait dengan wisata wellness, meskipun secara tidak langsung aktivitas wellness sudah berjalan dalam berbagai bentuk di dalam aktivitas wisata sehari-hari.
Untuk mengatasi hal ini, Joko menekankan pentingnya acara seperti Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF). “Aktifitas seperti JCWF sangat diperlukan bagi masyarakat secara luas, sehingga semua orang paham dan sadar arti penting kegiatan yang berorientasi pada wellness secara holistik,” katanya. Dengan pemahaman yang merata, penyelenggaraan paket wisata wellness akan menjadi lebih mudah, dan wellness tidak hanya berkembang di kalangan komunitas tertentu saja.
Di Yogyakarta sendiri, potensi wisata wellness sangat besar. Namun, banyak orang masih memahami spa, resort, dan fasilitas sejenis sebagai sarana kemewahan yang hanya dapat diakses oleh kalangan berpenghasilan tinggi. Padahal sebenarnya, fasilitas-fasilitas itu merupakan bagian dari proses penyembuhan (healing process) yang sarat akan nilai kebugaran holistik. Lebih jauh lagi, kekayaan budaya Jawa di DIY juga memiliki kandungan nilai wellness yang padat, tetapi kurang disadari oleh wisatawan. Semua hal ini membutuhkan sarana edukasi yang memadai dan publikasi yang lebih luas.
Meskipun JCWF telah berjalan selama beberapa tahun dan penyelenggaraannya semakin baik, Joko mengakui bahwa acara ini belum sepenuhnya mencapai tujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat umum. “JCWF lebih banyak diakses oleh komunitas-komunitas yang sudah paham arti penting wellness,” jelasnya. Oleh karena itu, perlu pengembangan agar kegiatan serupa bisa lebih banyak diakses publik, sehingga wisata wellness dan industri yang menyertainya dapat terrealisasi dengan lebih cepat dan menjadi potensi baru dalam dunia kepariwisataan Indonesia. (widhie)
Redaksi=terkininasional@gmail.com
