
NASIONALTERKINI.COM, YOGYAKARTA – Delapan dosen Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, menghadirkan beragam kisah kehidupan, budaya, kenangan masa kecil, hingga spiritualitas dalam Pameran Seni Rupa Internasional MULTIFRAME#7 di Jogja Gallery, Yogyakarta, 24–29 Oktober 2026.
Pameran yang diselenggarakan Program Studi Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Universitas Sebelas Maret (UNS), ini mengusung tema “Cosmos as a Journey of Life and Visual Exploration”. Sebanyak 125 seniman dari 12 negara berpartisipasi dengan sekitar 120 karya.
Pameran dibuka oleh Dekan FSRD UNS, Prof. Dr. Deny Tri Ardianto, pada Sabtu (24/10/2026). Kehadiran para akademisi UiTM menjadi bagian dari pertukaran gagasan artistik dan kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia.
Delapan dosen yang berpartisipasi ialah Florene Ejot Masanat, Mohd Fawazie Bin Arshad, Siti Ermi Syahira Abdul Jamil, Nur Faizah Mohd Pahme, Ahmad Sofiyuddin Mohd Shuib, Salehuddin Bin Zakaria, Mohd Khairi Baharom, dan Ruzamira Binti Abdul Razak. Mereka mengeksplorasi fotografi digital, keramik, material alam, serta teknik tradisional tatah sungging.
Kehidupan perkotaan dan pengalaman manusia
Florene Ejot Masanat melalui karya fotografi digitalnya menggunakan teknik motion blur untuk menggambarkan sosok manusia yang bergerak di antara deretan sepeda motor yang diam. Kontras tersebut merefleksikan singkatnya perjumpaan manusia, perjalanan hidup, dan rapuhnya ingatan.
Sementara itu, Mohd Fawazie Bin Arshad mengeksplorasi gerak, pengulangan, dan rutinitas kehidupan perkotaan. Sosok manusia yang membawa beban menjadi simbol tanggung jawab serta ketangguhan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
Nur Faizah Mohd Pahme menghadirkan The City Holds Its Breath, fotografi monokrom yang menampilkan sejumlah pengendara sepeda motor berhenti di persimpangan jalan. Melalui suasana menunggu, karya ini merefleksikan kehidupan modern yang terus bergerak, tetapi tetap membutuhkan jeda.
Adapun Ahmad Sofiyuddin Mohd Shuib melalui Tales of Two Cities menyandingkan dua foto yang diambil di Jepang dan Kamboja pada waktu serta lokasi berbeda. Perpaduan visual tersebut mengajak pengunjung merenungkan pengalaman emosional, kondisi sosial, dan makna kebahagiaan. Karya ini menyoroti pengalaman individual, bukan gambaran umum mengenai masyarakat kedua negara.
Kenangan masa kecil dan kreativitas
Siti Ermi Syahira Abdul Jamil menghadirkan Folded and Living, karya yang memadukan burung origami dengan buah salak. Perbedaan karakter kedua material menjadi simbol pertemuan antara imajinasi dan realitas kehidupan. Burung origami merepresentasikan impian serta kebebasan, sedangkan kulit salak menggambarkan tantangan dan tanggung jawab ketika manusia beranjak dewasa.
Mohd Khairi Baharom melalui karya keramik Where Dreams Float mengangkat kenangan bermain perahu kertas. Tiga perahu berbahan keramik ditempatkan di atas bentuk daun, menghadirkan hubungan antara imajinasi masa kecil dan alam. Penggunaan keramik mengabadikan bentuk perahu kertas yang biasanya mudah rusak.
Warisan budaya dan pengalaman spiritual
Salehuddin Bin Zakaria menghadirkan Sitija Tanding, karya yang dibuat pada 2024 menggunakan kulit perkamen kerbau dengan teknik tatah sungging. Teknik yang berkaitan dengan tradisi seni wayang tersebut digunakan untuk mengangkat tokoh Sitija atau Bomanarakasura. Karya ini memperlihatkan bagaimana warisan seni tradisional dapat hadir dalam ruang pameran seni rupa internasional.
Sementara itu, Ruzamira Binti Abdul Razak menyampaikan pengalaman spiritual melalui fotografi eksperimental Rindu Yang Tertinggal, yang dibuat pada 2026. Nuansa gelap, pencahayaan samar, dan efek visual menyerupai foto lama menggambarkan kerinduan terhadap Tanah Suci serta kenangan batin yang tetap melekat meski waktu berlalu.
Memperkuat kolaborasi seni lintas negara
Keterlibatan delapan dosen UiTM menunjukkan beragam pendekatan dalam memaknai perjalanan hidup melalui seni. Fotografi, keramik, dan material tradisional menjadi medium untuk mengungkapkan pengalaman sosial, emosional, budaya, hingga spiritual.
MULTIFRAME#7 juga melibatkan tiga kurator, yakni Sudjud Dartanto dari Indonesia, Md Imran Hossen dari Bangladesh, dan Sompron Taemprasit dari Thailand. Pameran ini turut diikuti akademisi dari sejumlah perguruan tinggi, mahasiswa, alumni, serta seniman profesional.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2017 di Sangkring Art Space, Yogyakarta, MULTIFRAME berkembang menjadi ruang pertemuan seniman dan akademisi lintas generasi serta negara. Partisipasi para dosen UiTM pada edisi ketujuh memperluas dialog artistik Indonesia–Malaysia sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam bidang seni dan pendidikan.
Pameran MULTIFRAME#7 berlangsung hingga Kamis (29/10/2026), pukul 12.00–20.00 WIB, di Jogja Gallery, Yogyakarta, dan terbuka untuk masyarakat tanpa biaya masuk.Pungkas
:Prof. Dr. Deny(Tyo)
Redaksi =terkininasional@gmail.com
