
NASIONALTERKINI.COM, SLEMAN* – Setelah 11 tahun tidak menggelar pertunjukan, kelompok seni jatilan Kudho Satrio kembali tampil di Padukuhan Soropadan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (25/10/2026). Pementasan ini menjadi penanda bangkitnya semangat warga untuk melestarikan kesenian tradisional sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.
Pementasan yang berlangsung di wilayah RT 03/RW 36 itu dimulai pukul 10.00 WIB. Sekitar 40 penari, didukung 60 anggota dan kru, terlibat dalam pertunjukan yang menarik perhatian sekitar 500–700 penonton. Sajian tiga babak penari putra dan satu babak penari putri menjadi daya tarik utama.
Kembalinya Kudho Satrio tidak lepas dari prakarsa generasi muda yang ingin menghidupkan kembali kesenian di lingkungan mereka. Sebelumnya, aktivitas kelompok ini terhenti karena sejumlah anggota merantau ke luar Yogyakarta sehingga latihan dan pementasan tidak lagi berjalan secara berkelanjutan.
Ketua Pemuda Soropadan Bayu Satria bersama Toni Gustira, M. Ilham Akbar, Saleh Rizki, dan Ikhsan menggagas kebangkitan kelompok tersebut. Gagasan itu mendapat dukungan dari Dukuh Soropadan, pengurus RT dan RW, tokoh masyarakat, serta warga.
Dalam kepengurusan baru, Toni Gustira dipercaya sebagai Ketua Kudho Satrio, sedangkan M. Ilham Akbar Demokrasi menjadi ketua panitia pementasan. Mereka berupaya menjadikan kelompok ini sebagai wadah kreativitas dan pembinaan seni bagi generasi muda.
Di hadapan ratusan penonton, para penari tampil dengan busana tradisional berwarna merah, emas, putih, dan ungu. Gerakan dinamis, properti kuda kepang, karakter topeng, serta iringan musik tradisional menghidupkan suasana pertunjukan. Penampilan itu turut didukung sinden dan wiraswara Tiata Angelina, Febri WS, dan Hilika Derista.
Anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak memenuhi sekitar arena. Sebagian penonton mengabadikan pertunjukan dengan telepon genggam, sementara lainnya menyaksikan bersama keluarga. Kehadiran warga dari berbagai kelompok usia memperlihatkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Keramaian tersebut juga membawa dampak ekonomi bagi warga. Sejumlah pedagang musiman atau pedagang tiban membuka lapak di sekitar lokasi pertunjukan. Dengan demikian, pementasan tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga menggerakkan kegiatan ekonomi kecil di tingkat padukuhan.
Penyelenggaraan kegiatan ini ditopang semangat gotong royong masyarakat yang menyumbangkan tenaga, pemikiran, dan dana. Dukungan juga datang dari sejumlah donatur dan sponsor, termasuk dua anggota DPRD Kabupaten Sleman yang disebut panitia dengan nama Dedi dan Chisya.
Sejumlah pihak lain yang turut mendukung kegiatan tersebut antara lain GKI Gejayan, Mi Doyok, Gudeg Kangen Bu Manto, Dolphin Garage, Gudeg Yu Narni, Putra Kambing Farm, Diaz Teknik, Rumah Makan Hj. Marsiyah, dan Bengkel Untung.
Dukuh Soropadan Shalahudin Kamal, S.Pd., mengapresiasi keterlibatan pemuda dan masyarakat dalam menghidupkan kembali Kudho Satrio. Menurut dia, kebangkitan kelompok tersebut merupakan wujud kepedulian terhadap pelestarian budaya Jawa sekaligus sarana memperkuat persaudaraan dan kerukunan antarwarga.
Ia berharap Kudho Satrio dapat terus berkembang dan menjadi kebanggaan masyarakat Soropadan. Kesenian tradisional, menurut Shalahudin, tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana menanamkan kecintaan terhadap warisan leluhur kepada generasi penerus.
Apresiasi serupa disampaikan Kamituwa Kalurahan Condongcatur Al Thouvik Sofisalam, S.IP. Ia menilai keberadaan kelompok seni tradisional penting untuk menjaga identitas lokal di tengah perkembangan Condongcatur sebagai kawasan penyangga perkotaan Yogyakarta.
Menurut Al Thouvik, modernisasi tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan kebudayaannya. Sebaliknya, kesenian tradisional dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan meneruskan warisan budaya daerah.
Ia menyebut sejumlah kelompok jatilan di Condongcatur yang masih aktif dan kerap menggelar pertunjukan, yakni Kudo Prasetya dari Pohruboh-Pikgondang, Roso Tunggal dari Padukuhan Pondok, serta PS Madu Mudo Turonggo dari Padukuhan Kayen. Kelompok terakhir itu juga menggelar pertunjukan di Green Kayen pada Minggu (18/10/2026).
Kehadiran kembali Kudho Satrio, menurut Al Thouvik, semakin memperkaya kehidupan seni budaya di Condongcatur sekaligus membuka peluang regenerasi pelaku seni. Keberadaan kelompok-kelompok tersebut menunjukkan bahwa tradisi tetap dapat tumbuh di tengah perubahan lingkungan dan pola kehidupan masyarakat.
Jatilan atau jathilan merupakan kesenian rakyat Jawa yang dikenal melalui penggunaan properti kuda kepang, gerak tari dinamis, dan iringan musik tradisional. Selain sebagai hiburan, kesenian ini mengandung nilai kebersamaan, kekompakan, kedisiplinan, dan gotong royong. Jathilan Yogyakarta juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 244/P/2016.
Bagi masyarakat Soropadan, kembalinya Kudho Satrio menjadi pengingat bahwa keberlanjutan tradisi bergantung pada keterlibatan masyarakat dan regenerasi. Pengalaman vakum selama lebih dari satu dekade menunjukkan pentingnya menjaga kesinambungan latihan, memperkuat organisasi, dan memberi ruang kepada generasi muda.
Setelah 11 tahun terhenti, Kudho Satrio kini kembali hadir di tengah masyarakat. Derap kuda kepang dari Soropadan bukan sekadar menandai kembalinya sebuah kelompok seni, melainkan juga menunjukkan bahwa gotong royong dan kecintaan terhadap budaya dapat menjadi kekuatan untuk menjaga warisan leluhur tetap hidup.Pungkas:Al Thouvik(Def) Redaksi=
terkininasional@gmail.com
