
NASIONALTERKINI.COM SLEMAN. Selama 120 hari, rumah Ponirah di Padukuhan Sanggrahan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menjadi dapur produksi makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita. Dari tempat sederhana itu, 11 kader Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) menyiapkan beragam menu berbahan pangan lokal untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga sasaran.Sabtu:17/10 2026

Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal tersebut berlangsung pada 17 Juni hingga 14 Oktober 2026 melalui Puskesmas Depok II. Para kader terlibat dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah makanan, mengemas, hingga mendistribusikannya ke empat daerah binaan.
Ketua DASHAT Condongcatur, Tatik Sukarsih, A.Md., mengatakan pelaksanaan program membutuhkan kerja sama dan tanggung jawab setiap anggota agar makanan yang disalurkan sesuai dengan menu dan ketentuan yang telah ditetapkan.
“Selama 120 hari, kami berupaya menjalankan amanah dari Puskesmas Depok II dengan sebaik-baiknya. Tugas kami bukan sekadar memasak, tetapi memastikan makanan diolah sesuai menu yang ditentukan, dikemas, dan didistribusikan kepada penerima manfaat,” ujar Tatik.
Rumah Ponirah di Sanggrahan RT 08, sebelah selatan Jalan Ring Road, difungsikan sebagai tempat pengolahan dan pengemasan makanan sekaligus titik awal pendistribusian PMT.
Tiga kader, yakni Ponirah, Tursilowati, dan Sutrini, bertanggung jawab mengolah makanan dengan pendampingan tenaga gizi Puskesmas Depok II. Sementara itu, kader lainnya menangani pengemasan, distribusi, dan koordinasi dengan keluarga penerima manfaat.
Pembagian tugas distribusi disesuaikan dengan empat daerah binaan. Darbin 1 melibatkan Sri Bardani, Musriyati, Tatik Sukarsih, dan Tri Mursilah. Darbin 2 ditangani Nur Hidayah dan Musriyati, sedangkan Darbin 3 oleh Dewi dan Nur Hidayah. Adapun Darbin 4 melibatkan Kristin, Partini, dan Tri Mursilah.
Dalam pelaksanaannya, program menggunakan siklus dengan pergantian menu setiap 14 hari. Pada siklus pertama hingga keempat, sasaran terdiri atas 40 balita dan 20 ibu hamil. Memasuki siklus kelima dan keenam, kelompok balita berganti menjadi 20 penerima manfaat baru, sementara kelompok ibu hamil tetap berjumlah 20 orang.
Pada siklus ketujuh, kembali ditetapkan 20 balita sasaran baru. Selanjutnya, pada siklus kedelapan dan tahap berikutnya, pemberian PMT difokuskan kepada ibu hamil sesuai ketentuan program. Pemberian kepada penerima dari kelompok ibu hamil dihentikan setelah yang bersangkutan melahirkan.
Beragam menu disiapkan dengan memanfaatkan bahan pangan yang mudah ditemukan di masyarakat, seperti telur, ayam, ikan, susu, sayuran, dan buah-buahan. Olahan tersebut antara lain puding jagung susu keju dengan nugget ayam, martabak ayam, siomay talam, bolu keju, nagasari ayam, carang gesing ekstra telur, mento ayam, dimsum ayam dan gurame, serta bakso ikan.
Tim juga menyiapkan menu makanan utama berupa nasi, tumis sayuran, rolade ayam, tahu sakura, dan buah. Variasi menu tersebut diharapkan membuat makanan tambahan lebih beragam dengan tetap mengikuti susunan menu dan ketentuan gizi program.
Menurut Tatik, kegiatan selama empat bulan itu memberikan pengalaman bagi para kader dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan yang bervariasi.
“Bahan pangan yang ada di sekitar kita ternyata dapat diolah menjadi makanan yang beragam. Semoga pengetahuan ini juga dapat menjadi inspirasi bagi keluarga untuk lebih memperhatikan pemenuhan gizi ibu dan anak,” katanya.
Pelaksanaan program didampingi dua tenaga gizi Puskesmas Depok II, Winariyanti, A.Md.Gz., dan Dwi Anisa Purnamasari, S.Tr.Gz. Pendampingan tersebut membantu memastikan pengolahan makanan mengikuti ketentuan teknis sekaligus mendukung pemantauan sasaran.
Selain mengolah dan mendistribusikan makanan, kader DASHAT turut membantu puskesmas dalam pemantauan serta validasi data balita penerima manfaat. Keterlibatan kader di tingkat padukuhan menjadi bagian dari upaya menjangkau keluarga sasaran sekaligus mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.
PMT berbahan pangan lokal merupakan salah satu intervensi untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan balita. Pemberian makanan tambahan tidak menggantikan makanan utama sehari-hari, tetapi menjadi tambahan asupan yang perlu disertai edukasi kepada keluarga serta pemantauan pertumbuhan dan status gizi secara berkala.
Berakhirnya program pada 14 Oktober 2026 menandai selesainya penugasan 11 kader DASHAT Condongcatur dalam rangkaian kegiatan tersebut. Selama empat bulan, mereka menjalankan tugas pengolahan, pengemasan, pendistribusian, serta membantu pemantauan penerima manfaat.
Tatik menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota tim dan Puskesmas Depok II atas kerja sama serta pendampingan selama program berlangsung. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk melanjutkan kegiatan pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam mendukung kesehatan ibu dan anak.
Dari dapur sederhana di Sanggrahan, kerja 11 kader itu memperlihatkan bahwa upaya perbaikan gizi tidak hanya bergantung pada program dan pendampingan tenaga kesehatan, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat. Konsistensi dalam menyiapkan dan menyalurkan makanan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mendukung tumbuh kembang anak dan meningkatkan kesehatan keluarga di Condongcatur Bermanfaat bagi masyarakat:
Tatik(Tyo)Redaksi =
terkininasional@gmail.com
