
NASIONALTERKINI.COM SLEMAN Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, A.P., M.Si., memaparkan kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi erupsi Gunung Merapi serta dampak kemarau panjang yang terjadi sepanjang tahun 2026.
Bambang Kuntoro menjadi narasumber dalam wawancara khusus bersama media anggota Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Sleman di Lobby Kantor Bupati Sleman, Selasa (8/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Bambang menjelaskan bahwa BPBD Kabupaten Sleman telah memiliki dokumen kajian risiko bencana sebagai dasar dalam memetakan berbagai potensi ancaman yang ada di wilayah Sleman.
Salah satu ancaman utama yang menjadi perhatian adalah aktivitas Gunung Merapi.
Menurut Bambang, pemerintah telah menyiapkan rencana kontingensi untuk menghadapi kemungkinan erupsi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Daerah, TNI, Polri, Basarnas, PMI, relawan, serta unsur masyarakat.
Status Merapi Tetap Level III Siaga
Bambang Kuntoro mengatakan status Gunung Merapi hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut telah berlangsung sejak tahun 2020.
Menurutnya, pemerintah belum mengubah status tersebut karena setiap perubahan memiliki konsekuensi terhadap kondisi sosial masyarakat di kawasan rawan bencana.
“Apabila dinaikkan menjadi Level IV atau Awas, tentu dapat menimbulkan kepanikan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Namun, apabila diturunkan menjadi Level II atau Waspada, masyarakat bisa menjadi terlalu santai,” jelas Bambang.
Karena itu, kata Bambang, pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Merapi yang sewaktu-waktu dapat berubah.
Ia menambahkan, terdapat sejumlah kawasan yang harus steril dari aktivitas masyarakat. Di sektor barat daya Gunung Merapi, radius bahaya ditetapkan hingga tujuh kilometer karena arah potensi erupsi cenderung menuju wilayah tersebut.
Sementara itu, untuk sektor selatan, radius aman berada pada jarak lima kilometer.
Mitigasi Struktural dan Nonstruktural
Sebagai langkah pengurangan risiko bencana, Bambang menyebut BPBD Sleman menjalankan mitigasi melalui pendekatan struktural dan nonstruktural.
Mitigasi struktural meliputi perbaikan fasilitas barak pengungsian, pembersihan dan pelebaran jalur evakuasi, serta perbaikan rambu-rambu evakuasi.
Sementara mitigasi nonstruktural dilakukan melalui komunikasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai perkembangan aktivitas Gunung Merapi.
“Kami juga menyiapkan logistik dan memperkuat sistem sister village. Jika terjadi bencana yang meluas, masyarakat dari kawasan rawan akan dievakuasi ke wilayah yang lebih aman,” ujar Bambang.
Berdasarkan pemetaan BPBD Sleman, potensi masyarakat yang terdampak apabila terjadi erupsi Gunung Merapi diperkirakan mencapai sekitar 37 ribu jiwa.
Masyarakat tersebut berada di tiga kapanewon dan tujuh kalurahan yang masuk dalam wilayah terdampak.
“Data ini terus kami pantau secara rutin sebagai bagian dari kesiapsiagaan,” katanya.
Kemarau Panjang dan Distribusi Air Bersih
Selain kesiapsiagaan menghadapi Gunung Merapi, Bambang Kuntoro juga memaparkan langkah BPBD Sleman dalam mengantisipasi dampak kemarau panjang.
Menurut Bambang, hingga saat ini BPBD Sleman telah melakukan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami dampak kekeringan.
Hingga 7 September 2026, sebanyak 60 tangki atau sekitar 293 ribu liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat.
Wilayah penerima bantuan air bersih tersebut berada di Kapanewon Turi, Moyudan, Tempel dan Godean.
Bambang mengatakan, kebutuhan distribusi air bersih di Sleman sebenarnya tidak selalu terjadi secara luas karena wilayah Sleman merupakan salah satu daerah tangkapan air.
Namun, kemarau panjang tahun ini menyebabkan terjadinya penurunan debit air di sejumlah sumber.
Salah satunya terjadi di Sungai Krasak yang berhulu di Gunung Merapi.
Menurut Bambang, debit air mengalami penurunan hingga sekitar dua pertiga dibandingkan kondisi sebelumnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah terus mencari sumber mata air alternatif serta memaksimalkan pemanfaatan sumber air dalam yang tersedia di beberapa wilayah.
“Selain mencari sumber air baru, kami juga berupaya memperbaiki pompa-pompa air yang mengalami kerusakan agar sumber air yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal,” jelasnya.
Optimalkan Jaringan PDAM Tirta Sembada
Dalam pemenuhan kebutuhan air bersih, Bambang juga menyoroti pentingnya optimalisasi jaringan PDAM Tirta Sembada Sleman.
Menurutnya, jaringan pelayanan air bersih tersebut telah menjangkau wilayah perbatasan Kabupaten Sleman dan Gunungkidul.
Tercatat sekitar 500 sambungan telah terlayani melalui jaringan pelayanan wilayah timur, khususnya Randusari dan Bokoharjo di Kapanewon Prambanan.
Dampak terhadap Kebutuhan Air Pertanian
Bambang juga menjelaskan bahwa kemarau panjang turut berdampak terhadap ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian.
Berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), air yang mengalir ke Selokan Mataram berasal dari Bendungan Karangtalun di Sungai Progo.
Akibat kemarau panjang, debit air mengalami penurunan hingga sekitar sepertiga sehingga turut memengaruhi ketersediaan air bagi sektor pertanian.
Selain untuk pertanian, air tersebut juga dimanfaatkan untuk kebutuhan pengolahan air bersih melalui Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Kartamantul.
SPAM Regional Kartamantul melayani wilayah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul dengan kapasitas mencapai sekitar 400 liter per detik.
Bambang Kuntoro menegaskan, BPBD Sleman akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi serta dampak perubahan iklim dan kemarau panjang.
Menurutnya, kesiapsiagaan pemerintah harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh unsur, termasuk masyarakat, untuk meminimalkan risiko apabila terjadi bencana.Kalau diinginkan, saya juga bisa membuat versi ini lebih bergaya koran nasional seperti Tempo, dengan Bambang Kuntoro sebagai tokoh utama narasumber dan kutipan wawancara dibuat lebih kuat.Pungkas:Bambang:(Aan)
Redaksi =
terkininasional@gmail.com
