JCWF 2026 Usung Semangat RECONNECT, Yogyakarta Perkuat Wisata Berbasis Wellness

Foto:GKR Bendara bersama Founder & Managing Director Loman Park Hotel Yogyakarta, Handono S. Putro

NASIONALTERKINI.COM. YOGYAKARTA. Yogyakarta bersiap memperkuat posisinya sebagai destinasi cultural wellness melalui penyelenggaraan Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 yang akan berlangsung pada 6–8 November 2026.

Mengusung tema “RECONNECT — Reconnecting People, Culture & Wellbeing”, festival ini dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai kekuatan yang selama ini tumbuh di Yogyakarta, mulai dari budaya, kesehatan, pariwisata, komunitas, alam, hingga ekonomi kreatif.Rabu:03/08/2026

Rangkaian JCWF 2026 akan dipusatkan di Loman Park Hotel Yogyakarta, sekaligus terhubung dengan berbagai ruang, komunitas wellness, pelaku budaya, destinasi, dan sektor ekonomi kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta.

foto penadatangan kerjasama GKR Bendara selaku Ketua JCWF dengan Founder & Managing Director Loman Park Hotel Yogyakarta, Handono S. Putro,

Festival ini diinisiasi dan dipimpin langsung oleh GKR Bendara selaku Ketua JCWF 2026. JCWF dirancang bukan sekadar sebagai agenda festival selama tiga hari, melainkan sebagai langkah bersama untuk membangun ekosistem wisata wellness yang berakar pada budaya dan kearifan lokal.

Founder & Managing Director Loman Park Hotel Yogyakarta, Handono S. Putro, mengatakan Yogyakarta sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar untuk mengembangkan wisata wellness berbasis budaya.

Menurut Handono, berbagai praktik kehidupan yang berkaitan dengan kesehatan, keseimbangan, alam, budaya, dan spiritualitas telah lama hidup di tengah masyarakat.

Tantangan saat ini bukan menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan menghubungkan kembali potensi-potensi tersebut dalam sebuah ekosistem yang saling menguatkan.

“Yogyakarta memiliki banyak sekali kekayaan yang sebenarnya sudah hidup di masyarakat. Ada budaya, jamu, tradisi, komunitas, alam, hingga berbagai praktik yang berkaitan dengan keseimbangan hidup. Yang perlu kita lakukan adalah menghubungkan semuanya,” kata Handono.

WELLNESS BUKAN SEKADAR RELAKSASI

Perubahan gaya hidup global turut menggeser cara masyarakat memaknai wellness.

Jika sebelumnya wellness identik dengan relaksasi, spa, kesehatan, atau kebugaran, kini masyarakat mencari pengalaman yang lebih mendalam.

Wellness tidak lagi hanya berbicara tentang tubuh yang sehat, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, budaya, alam, dan nilai-nilai kehidupan.

Dari pemahaman inilah tema RECONNECT dibangun.

Menurut Handono, keterhubungan menjadi salah satu kunci penting dalam memahami konsep wellbeing secara utuh.

“Pada dasarnya, wellness adalah tentang bagaimana manusia kembali menemukan keseimbangan. Terhubung dengan dirinya sendiri, dengan orang lain, dengan alam, dan juga dengan akar budayanya,” ujarnya.

Untuk membangun gagasan tersebut, berbagai pemangku kepentingan telah dilibatkan dalam persiapan JCWF 2026.

Di antaranya Dinas Pariwisata DIY, Dinas Kebudayaan DIY, Dinas Kesehatan DIY, GIPI, ASITA, ASTINDO, IVENDO, PHRI, Forum Komunikasi Desa Wisata, Dewan Jamu, rumah sakit, serta puluhan komunitas wellness dan budaya.

Sejumlah komunitas yang turut menjadi bagian dari ekosistem tersebut antara lain Bali Usada, Jemparingan Keraton, Tari Klasik Keraton, Gamelan Sound Healing Nglanggeran, hingga Desa Wisata Sidorejo.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa fondasi ekosistem wellness Yogyakarta sebenarnya telah tersedia.

“Tantangannya adalah bagaimana potensi-potensi ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Melalui semangat RECONNECT, kami ingin membangun keterhubungan dan kolaborasi,” kata Handono.

WARISAN TAKBENDA SEBAGAI KEKUATAN YOGYAKARTA

Salah satu kekuatan yang diyakini menjadi pembeda Yogyakarta dalam pengembangan wisata wellness adalah kekayaan warisan budaya takbenda.

Warisan tersebut tidak selalu berbentuk bangunan bersejarah atau benda pusaka.

Ia hidup dalam pengetahuan masyarakat, tata krama, seni, ritual, kuliner, filosofi, hingga cara manusia membangun hubungan dengan alam dan lingkungannya.

Spa dan yoga mungkin dapat ditemukan di berbagai negara.

Namun, pengalaman menyelami filosofi Jawa, tradisi srawung, unggah-ungguh, gotong royong, serta cara masyarakat Jawa memahami keseimbangan hidup menjadi kekuatan yang memiliki karakter khas.

Menurut Handono, kekayaan budaya tersebut perlu dihadirkan bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai pengalaman yang dapat dirasakan secara langsung.

“Budaya jangan hanya dilihat. Yang lebih penting adalah bagaimana orang bisa mengalami dan merasakan nilai yang ada di dalamnya,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, budaya tidak berhenti sebagai pertunjukan.

Jemparingan atau panahan tradisional, misalnya, dapat menjadi ruang untuk melatih konsentrasi, kesabaran, disiplin, dan pengendalian diri.

Gamelan dapat menghadirkan pengalaman tentang ritme dan ketenangan.

Tari membuka ruang kesadaran terhadap tubuh dan rasa.

Sementara jamu membawa pengetahuan tentang hubungan manusia dengan alam serta pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh.

REKONTEKSTUALISASI TANPA KEHILANGAN MAKNA

Konsep penting yang menjadi perhatian dalam pengembangan JCWF 2026 adalah rekontekstualisasi nilai-nilai lokal.

Rekontekstualisasi bukan berarti mengubah tradisi demi mengikuti tren atau kepentingan pasar.

Sebaliknya, pendekatan tersebut berupaya menghadirkan kembali nilai-nilai lama dalam konteks kehidupan masa kini tanpa kehilangan akar dan makna budayanya.

Nilai seperti srawung, unggah-ungguh, gotong royong, hamemayu hayuning bawana, keseimbangan, keselarasan, dan kesadaran terhadap alam memiliki relevansi kuat dengan kehidupan modern.

“Yang harus tetap dijaga adalah esensi dan nilai dasarnya. Cara penyampaiannya bisa berkembang mengikuti zaman, tetapi jangan sampai kehilangan akar budayanya,” ujar Handono.

Dalam konsep tersebut, komunitas tidak ditempatkan sekadar sebagai pelengkap acara.

Komunitas merupakan pemilik pengetahuan, pelaku praktik, penjaga nilai, sekaligus bagian penting dalam membangun pengalaman cultural wellness.

Wisatawan pun tidak hanya hadir sebagai konsumen.

Mereka diajak menjadi bagian dari pengalaman, memahami makna budaya, dan merasakan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat.

TIGA PILAR RECONNECT

Semangat RECONNECT dalam JCWF 2026 dijabarkan melalui tiga pilar utama.

Reconnect People berfokus pada upaya mempertemukan kembali manusia dengan manusia, menghidupkan semangat srawung, serta memperkuat jejaring dan hubungan antarkomunitas.

Reconnect Culture mengajak masyarakat dan wisatawan untuk memahami makna yang berada di balik sebuah tradisi, bukan hanya mengenal bentuk luarnya.

Sementara Reconnect Wellbeing menghadirkan pemahaman tentang keseimbangan hidup secara lebih utuh, mencakup aspek fisik, mental, sosial, emosional, spiritual, dan ekologis.

Ketiga pilar tersebut saling berkaitan.

Budaya hidup melalui manusia.

Manusia hidup dalam hubungan dengan lingkungan dan komunitasnya.

Dari keterhubungan itulah keseimbangan hidup dapat tumbuh.

LOMAN PARK HOTEL SEBAGAI RUANG PERTEMUAN

Pemilihan Loman Park Hotel Yogyakarta sebagai salah satu pusat kegiatan JCWF 2026 juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan industri hospitality dengan ekosistem wellness dan budaya.

Hotel tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan.

Lebih dari itu, ruang hospitality dapat menjadi titik temu antara pelaku pariwisata, komunitas, praktisi wellness, pemangku kepentingan, dan wisatawan.

Handono mengatakan pengembangan wisata wellness tidak harus membentuk sektor baru yang berdiri sendiri.

Sebaliknya, wellness dapat berkembang dengan menghubungkan berbagai kekuatan yang selama ini telah dimiliki Yogyakarta.

“Hospitality, budaya, komunitas, kesehatan, dan destinasi sebenarnya memiliki keterkaitan. Ketika semuanya bisa terhubung, kita dapat menciptakan pengalaman yang lebih utuh bagi masyarakat maupun wisatawan,” ujarnya.

DARI NILAI LOKAL MENUJU MANFAAT EKONOMI MASYARAKAT

Pengembangan cultural wellness juga diharapkan dapat membangun rantai nilai yang memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.

Nilai lokal dan warisan budaya dapat berkembang menjadi pengalaman wellness, kemudian menjadi bagian dari produk pariwisata yang memberikan nilai ekonomi bagi komunitas.

Namun, Handono menekankan bahwa pengembangan tersebut harus tetap menjaga keseimbangan.

Budaya tidak boleh kehilangan makna karena komersialisasi yang berlebihan.

Di sisi lain, komunitas sebagai penjaga dan pelaku tradisi harus memperoleh ruang, penghargaan, serta manfaat ekonomi yang layak.

Karena itu, keberhasilan JCWF 2026 tidak hanya akan diukur dari jumlah peserta atau kunjungan wisatawan.

Lebih dari itu, festival diharapkan mampu menciptakan nilai tambah bagi komunitas, menjaga keberlanjutan pengetahuan lokal, serta membuka peluang ekonomi baru tanpa menghilangkan esensi budaya.

“Kalau wellness ini berkembang dengan baik, manfaatnya harus kembali kepada masyarakat. Komunitas harus menjadi bagian penting dan mendapatkan manfaat dari ekosistem yang dibangun,” kata Handono.

GKR BENDARA DAN SEMANGAT MEMBANGUN KETERHUBUNGAN

Dalam pengembangan JCWF 2026, peran GKR Bendara sebagai Ketua Festival menjadi penting dalam mempertemukan berbagai sektor.

Mulai dari pemerintah dan komunitas, industri dan tradisi, hingga kesehatan, pariwisata, dan kebudayaan.

Semangat tersebut sejalan dengan gagasan utama RECONNECT, yaitu membangun kembali keterhubungan antara berbagai potensi yang selama ini tumbuh di Yogyakarta.

Handono menilai Yogyakarta memiliki peluang besar untuk menghadirkan identitas wellness yang autentik karena kekuatan budaya dan komunitasnya.

“Yogyakarta tidak perlu menjadi seperti tempat lain. Kita memiliki kekuatan sendiri. Budaya, keramahan, komunitas, alam, dan nilai-nilai kehidupan yang sudah hidup di masyarakat merupakan modal yang sangat besar,” ujarnya.

YOGYAKARTA MENGAJAK UNTUK KEMBALI TERHUBUNG

Melalui Jogja Cultural Wellness Festival 2026, Yogyakarta tidak hanya ingin menawarkan wellness sebagai sebuah produk wisata.

Lebih dari itu, Yogyakarta ingin menghadirkan pengalaman untuk kembali terhubung.

Terhubung dengan manusia.

Terhubung dengan budaya.

Terhubung dengan alam.

Terhubung dengan nilai-nilai kehidupan.

Dan pada akhirnya, terhubung kembali dengan diri sendiri.

Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, wellness mungkin bukan selalu tentang menemukan sesuatu yang baru.

Kadang, wellness adalah tentang kembali mengingat apa yang sebenarnya telah lama dimiliki.

Nilai yang diwariskan.

Budaya yang terus hidup.

Kearifan yang telah menemani masyarakat selama berabad-abad.

Serta kesadaran bahwa manusia pada dasarnya tidak pernah benar-benar terpisah dari alam dan kebudayaannya.

RECONNECT. Reconnecting People, Culture & Wellbeing.

Jogja Cultural Wellness Festival 2026

6–8 November 2026
Loman Park Hotel Yogyakarta:Tutup:Handono(Tyo)
Redaksi =
terkininasional@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *