
NASIONALTERKINI.COM. YOGYAKARTA Panggung Teras Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan berubah menjadi ruang perjumpaan antara musik, puisi, dan gagasan tentang kehidupan dalam agenda Mini Stage: Poetry Jam – Puisi Maghrib, Rabu (26/8/2026).
Bagian dari rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 itu berlangsung pukul 16.30–17.40 WIB. Bukan sekadar pertunjukan, acara tersebut menghadirkan sastra dalam suasana yang lebih cair, sekaligus mengajak pengunjung melihat kembali persoalan sosial dan makna kemerdekaan melalui karya.
Pertunjukan diawali Tholo Akustik yang membawakan sejumlah lagu karya Ikhsan Skuter serta repertoar akustik era 2000-an hingga sekitar 2015. Petikan gitar mengiringi suasana sore sebelum panggung beralih pada pembacaan puisi.
Ranu Zaki dari Stand Up Indo Jogja kemudian tampil dengan sejumlah karya, salah satunya Perempuan yang Tergusur karya W.S. Rendra. Puisi tersebut membawa suasana menjadi lebih reflektif, terutama ketika berhadapan dengan tema kehidupan dan persoalan sosial.
Satria, juga dari Stand Up Indo Jogja, melanjutkan dengan membacakan Sebatang Lisong dan Hai Ma karya W.S. Rendra. Ia turut membawakan puisinya sendiri, Berita, yang merekam pandangannya terhadap berbagai persoalan dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Doel dari Stand Up Indo Jogja membacakan Petani karya Feri Sandi. Pembacaan tersebut memperkuat nuansa kebangsaan yang terasa sepanjang acara, dengan membawa perhatian pada identitas, perjalanan sejarah, dan kehidupan masyarakat.
Tidak berhenti pada penampil, Doel kemudian mengajak pengunjung ikut membaca puisi. Interaksi itu membuat panggung menjadi lebih terbuka. Penonton tidak hanya menjadi penyimak, tetapi turut mengambil bagian dalam pengalaman bersastra.
Menjelang petang, suasana semakin hangat. Angin sore dan perubahan warna langit menjadi latar alami bagi perpaduan musik dan puisi. Sastra pun hadir tanpa jarak antara panggung dan penonton.
Pamong Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Dian Korprianing Nugraha, mengatakan Poetry Jam – Puisi Maghrib merupakan salah satu cara menghadirkan sastra lebih dekat dengan masyarakat.
“Melalui kegiatan seperti ini, sastra hadir lebih dekat dengan masyarakat. Pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga dapat ikut membaca dan merasakan sendiri pengalaman berinteraksi dengan puisi,” ujar Dian.
Menurut dia, sastra tidak harus selalu ditempatkan dalam ruang formal. Puisi dapat tumbuh melalui perjumpaan yang sederhana, termasuk ketika dipadukan dengan musik dan interaksi langsung bersama masyarakat.
Momentum bulan kemerdekaan, lanjut Dian, juga menjadi kesempatan untuk memaknai kembali perjalanan bangsa. Sastra dapat menjadi medium untuk membaca realitas sosial, mengingat sejarah, sekaligus menyuarakan harapan.
“Semangat kemerdekaan tidak hanya kita rayakan melalui seremoni. Sastra juga dapat menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali perjalanan bangsa, memahami persoalan yang masih dihadapi, dan menumbuhkan harapan,” katanya.
Melalui Poetry Jam – Puisi Maghrib, FSY 2026 menunjukkan bahwa sastra dapat hadir di ruang publik dengan cara yang ringan, akrab, dan interaktif. Musik, puisi, serta keterlibatan penonton berpadu menjadikan sore di Embung Giwangan bukan hanya tontonan, tetapi juga ruang untuk berhenti sejenak, mendengar, dan merenungkan kembali kehidupan:Pungkas:Dian(Aan)
Redaksi =
terkininasional@gmail.com
