foto:GKR Bendara dalam sambutan pembukaan Art Jog 2026

NASIONALTERKINI.COM. YOGYAKARTA. Pembukaan ARTJOG 2026 di Jogja National Museum (JNM), Jumat (19/6/2026), berlangsung meriah dan sarat makna. Dalam sambutannya, GKR Bendara menegaskan bahwa seni merupakan warisan yang terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa kehilangan ruh dan jiwanya.

Menurut GKR Bendara, karya-karya yang dipamerkan di ARTJOG 2026 menjadi bukti nyata bahwa setiap manusia memiliki cara pandang dan pengalaman yang berbeda dalam memaknai budaya. Perbedaan tersebut kemudian melahirkan imajinasi sosial, nilai estetika, serta respons terhadap realitas yang terus diwariskan, dirawat, dan didefinisikan ulang dari masa ke masa.

“Seni yang kita saksikan hari ini menunjukkan bagaimana kebudayaan terus hidup melalui berbagai tafsir dan pengalaman manusia. Inilah kekayaan yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, perjalanan panjang ARTJOG telah menjadi bagian penting dalam sejarah seni rupa Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Selama bertahun-tahun, ARTJOG tidak hanya memberikan ruang bagi para seniman untuk berkarya, tetapi juga menghadirkan dampak positif bagi masyarakat luas.

GKR Bendara mengingatkan bahwa nilai-nilai budaya Jawa mengajarkan keindahan tidak hanya diukur dari aspek visual semata, melainkan dari kemampuannya menghadirkan harmoni, keselamatan, dan kemaslahatan bersama. Prinsip Hamemayu Hayuning Bawana menjadi pengingat bahwa kebudayaan harus berfungsi memperindah sekaligus memelihara kehidupan.

“Atas dasar itulah Keraton Yogyakarta terus berupaya menjadikan kebudayaan sebagai ruang refleksi dan pendidikan kehidupan,” katanya.

Menanggapi tema “ARS LONGA: GENERATIO”, GKR Bendara menilai pentingnya budaya lintas generasi. Menurutnya, konsep Generatio bukan sekadar merayakan siapa yang lebih senior atau lebih muda, melainkan menghadirkan ruang yang mampu meruntuhkan sekat-sekat hierarki yang sering diciptakan oleh dunia modern.

“Kebudayaan yang kuat tidak mengotak-ngotakkan manusia berdasarkan label generasi, perbedaan pandangan, maupun polarisasi algoritma. Seni tidak mengenal batas kaku antara masa lalu dan masa depan,” ungkapnya.

Dalam ruang seni, lanjutnya, perbedaan sudut pandang bukanlah jurang pemisah, melainkan spektrum warna yang saling melengkapi. Melalui ARTJOG 2026, publik diajak melihat bagaimana maestro senior, seniman muda, hingga anak-anak dapat berdiri sejajar dan saling berdialog melalui karya.

“Mereka melompati batas usia, memecahkan sekat antargender, dan menyatukan berbagai pandangan. Inilah bentuk kebudayaan yang abadi, inklusif, dan percaya bahwa setiap generasi memiliki kontribusi penting dalam menulis sejarah kemanusiaan,” tuturnya.

Menutup sambutannya, GKR Bendara mengajak seluruh pihak untuk terus menyalakan api kreativitas dengan semangat sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh. Ia berharap seni tidak hanya menjadi pajangan dalam ruang pamer, tetapi juga menjadi medium yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.

“Mari kita rayakan keabadian seni. Selamat mengapresiasi, selamat berdialog, dan mari terus menjaga nyala kebudayaan untuk generasi mendatang. Salam budaya,” pungkasnya.

Sementara itu, Founder ARTJOG, Hery Pemad, mengatakan bahwa ARTJOG 2026 resmi dibuka pada Jumat (19/6/2026) dan akan berlangsung hingga 30 Agustus 2026 di Jogja National Museum, Yogyakarta.

Mengusung tema “ARS LONGA: GENERATIO”, ARTJOG tahun ini menjadi pembuka trilogi besar ARS LONGA yang akan berlangsung hingga 2028. Tema tersebut menyoroti dialog antargenerasi dalam praktik seni sekaligus mengajak publik memaknai kembali peran seni sebagai ruang refleksi, produksi pengetahuan, perlawanan, dan penyembuhan di tengah berbagai tantangan zaman.

“Melalui tema ini, kami ingin menunjukkan bahwa seni selalu hidup melalui proses pewarisan, pertukaran gagasan, dan dialog yang terus berlangsung lintas generasi,” ujar Hery Pemad.

ARTJOG 2026 menghadirkan beragam karya seni rupa, instalasi, seni performans, hingga kolaborasi lintas disiplin dari seniman Indonesia maupun mancanegara. Salah satu karya utama tahun ini adalah instalasi imersif ‘GENERATIO: CYCLUS VITAE’ karya seniman komisi Roby Dwi Antono yang mengangkat tema warisan antargenerasi dan pembentukan identitas.

Suasana pembukaan semakin semarak dengan penampilan performans ‘Living Thread’ karya seniman Jepang Hiromi Tango yang mengajak pengunjung terlibat dalam pengalaman kolektif lintas generasi.

ARTJOG 2026 juga menghadirkan dua pendekatan kuratorial utama, yakni Dialogus, yang menekankan kolaborasi antargenerasi, serta Prāctica, yang menampilkan beragam praktik seni kontemporer dari seniman dan kolektif pilihan.

Tak hanya pameran seni rupa, pengunjung juga dapat menikmati rangkaian pertunjukan dalam program performa•ARTJOG yang menghadirkan seniman, musisi, dan kelompok pertunjukan dari Indonesia, Prancis, serta Australia.

Sebagai salah satu agenda seni kontemporer terbesar di Indonesia, ARTJOG 2026 kembali menjadi ruang pertemuan bagi seniman, pelaku budaya, dan masyarakat untuk merayakan keberagaman gagasan sekaligus menegaskan pentingnya dialog lintas generasi dalam perkembangan seni dan kebudayaan.Pungkas:Hery Pemad(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *