
foto=Tazbir Abdullah Dosen praktisi Sekolah Vokasi Pariwisata Universitas Gadjah Mada(UGM)
NASIONALTERKI.COM. Yogyakarta — Momentum libur akhir tahun 2025 dinilai menjadi modal kuat bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk melangkah lebih jauh dalam pengembangan pariwisata pada 2026. Berbagai promosi destinasi, mulai dari Malioboro, kawasan Pantai Selatan, hingga kemunculan objek wisata baru, terbukti mampu menarik minat wisatawan dalam jumlah signifikan.
Dosen praktisi Sekolah Pariwisata Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Tazbir Abdullah, menilai capaian tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai keberhasilan sesaat, melainkan dijadikan awal sebuah gerakan besar pariwisata bertajuk “Visit Jogja 2026.”
“Di akhir 2025 kita melihat promosi pariwisata Jogja sangat masif dan hasilnya cukup baik. Ini seharusnya menjadi awal gebrakan untuk 2026. Mestinya kita berani mencanangkan visi bersama, misalnya Visit Jogja 2026,” ujar Tazbir.Selasa 13/01/2026 Saat di tim media nasionalterkini.com, di NARASA Resto& Coffee jam :12.30Wib

Menurutnya, pencanangan visit tersebut penting agar seluruh pemangku kepentingan memiliki arah yang jelas. Pemerintah, pelaku industri pariwisata, investor, hingga masyarakat dapat menyiapkan peran masing-masing secara terstruktur dan terukur.
“Kalau kita menyatakan Visit Jogja 2026, maka harus jelas: pemerintah menyiapkan apa, swasta menyiapkan apa, masyarakat berperan bagaimana. Semua bergerak bersama,” jelasnya.
Tazbir menegaskan, Jogja memiliki daya tarik yang sangat kuat sebagai destinasi wisata nasional bahkan internasional. Karena itu, hal-hal positif yang sudah berjalan perlu terus ditingkatkan, sementara berbagai kekurangan harus segera dibenahi agar tidak menimbulkan dampak negatif di kemudian hari.
Selain peningkatan kunjungan wisatawan, Tazbir juga menyoroti pesatnya pertumbuhan investasi pariwisata di Yogyakarta. Dalam waktu dekat, sejumlah hotel baru, termasuk hotel berbintang lima, diperkirakan akan mulai beroperasi.
“Ini menunjukkan bahwa Jogja sangat menarik bagi investor. Namun, pertumbuhan jumlah kamar hotel harus diimbangi dengan kesiapan destinasi dan aktivitas promosi yang berjalan seiring,” katanya.
Lebih jauh, Tazbir menekankan bahwa tantangan utama pariwisata Jogja ke depan bukan hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga meningkatkan belanja wisatawan. Menurutnya, banyak wisatawan—khususnya domestik—masih cenderung datang hanya untuk berfoto tanpa memberikan dampak ekonomi yang optimal.
“Kita harus punya strategi sejak awal agar wisatawan mau dan nyaman membelanjakan uangnya. Informasi harus jelas, pengalaman harus berkualitas, paket wisata harus menarik,” ungkapnya.
Ia mencontohkan negara-negara tetangga yang dinilai lebih cerdas dalam mengemas pariwisata sebagai pengalaman belanja yang menyenangkan.
“Mereka pandai membuat wisatawan dengan sadar dan nyaman mengeluarkan uang. Kita perlu belajar dari itu agar pergerakan ekonomi dari sektor pariwisata benar-benar terasa,” tambahnya.
Tazbir berharap, melalui kerja bersama seluruh pihak, Yogyakarta mampu mencatat pertumbuhan pariwisata yang tinggi sekaligus peningkatan belanja wisatawan pada 2026.
“Jika itu bisa kita lakukan bersama, maka Jogja tidak hanya maju sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah yang berkelanjutan,” Pungkas:Tazbir(Tyo)
Redaksi=terkininasional@gmail.com
