
NASIONALTERKINI. Yogyakarta. Komitmen seorang anak muda bernama Hendra, aktivis dari Yayasan Vesta Indonesia, menunjukkan bahwa kerja-kerja kemanusiaan bukan hanya tanggung jawab lembaga besar atau pemerintah. Bagi Hendra, ruang kontribusi selalu terbuka luas bagi remaja yang ingin terlibat. Sejak 2023 hingga 2025, ia berada di garis depan isu HIV/AIDS, pendampingan penyintas kekerasan, hingga edukasi kesehatan reproduksi. Ia mengajak remaja untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi bagian dari solusi.Selasa:25/11/2025

Hendra bergabung dalam isu HIV pada Mei 2023, dilatarbelakangi keprihatinannya terhadap stigma yang masih menjerat remaja yang hidup dengan HIV. Selama periode 2023–2024, ia bertugas sebagai petugas lapangan dan berhasil menemukan 116 kasus baru HIV, kemudian menghubungkan mereka dengan layanan kesehatan yang ramah dan tidak diskriminatif.

“Banyak remaja takut tes, takut bicara, takut mencari bantuan. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena stigma membuat mereka merasa sendirian. Di sinilah kita harus hadir,” ujar Hendra.

Paralegal Officer 2025: Tangani 68 Kasus Kekerasan
Memasuki Januari 2025, Hendra dipercaya menjadi Paralegal Officer Yayasan Vesta Indonesia. Dalam posisi ini, ia menangani berbagai kasus kekerasan, memberikan edukasi kepada masyarakat, dan membuka ruang dialog agar isu kekerasan dan kesehatan reproduksi tidak lagi menjadi tabu.

Selama menjalankan peran ini, ia telah mendampingi 68 kasus kekerasan dan menghubungkan para penyintas dengan layanan medis, bantuan hukum, hingga pendampingan psikologi. Baginya, pemulihan penyintas selalu menjadi prioritas.

Finalis Duta Kesehatan DIY 2025: Soroti Minimnya Edukasi Remaja
Kerja-kerja advokasinya mendapat pengakuan publik ketika ia terpilih sebagai Finalis Duta Kesehatan DIY 2025. Mengangkat isu HIV/AIDS pada remaja, Hendra menilai kelompok usia muda masih sangat rentan karena minimnya edukasi yang komprehensif dan rasa takut untuk mengakses layanan kesehatan. Pada ajang ini, ia meraih predikat Runner Up II Duta Kesehatan DIY 2025.
“Banyak yang memiliki risiko, tetapi tidak punya informasi. Banyak yang ingin bertanya, tetapi malu. Edukasi, keberanian, dan lingkungan yang aman sangat penting,” katanya.
Seruan untuk Remaja Indonesia: “Gerakan Kemanusiaan Dimulai dari Empati”
Di tengah pencapaian dan tantangannya, Hendra menyampaikan pesan kuat kepada generasi muda. “Anak muda punya peran besar. Tidak perlu menunggu menjadi ahli atau aktivis penuh waktu. Mulailah dari hal sederhana: peduli pada teman, mau mendengar cerita, dan berani membela yang benar. Gerakan kemanusiaan lahir dari empati,” ujarnya.
Hendra menegaskan bahwa isu HIV, kekerasan, dan kesehatan reproduksi tidak akan pernah selesai tanpa keterlibatan remaja sebagai generasi yang paling dekat dengan dinamika sosial. Ia berharap lebih banyak anak muda berani membuka percakapan, mengikuti edukasi, dan membangun lingkungan yang aman di komunitasnya.
Perjalanan Konsisten yang Menginspirasi
Perjalanan Hendra menunjukkan bahwa perubahan dapat lahir dari langkah kecil: keberanian untuk peduli. Dari menemukan kasus HIV baru, mendampingi penyintas kekerasan, hingga memberikan edukasi publik, ia membuktikan bahwa generasi muda mampu memimpin gerakan besar di bidang kesehatan dan kemanusiaan.
Semangat dan dedikasi Hendra diharapkan menjadi inspirasi bagi remaja lain untuk tidak takut bersuara, tidak takut belajar, dan tidak ragu mengambil peran dalam isu sosial di sekitar mereka.Pungkas:Hendra(Tyo)
