
NASIONALTERKINI.Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah memasuki berbagai lini kehidupan, termasuk dunia jurnalistik. Namun, dalam sebuah diskusi bertema “Peran AI dalam Jurnalistik” yang digelar oleh DPD Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Kabupaten Sleman di Loman Park Hotel Yogyakarta, Kamis (26/6), muncul pandangan menarik yang mengajak insan pers tidak hanya melihat AI sebagai alat teknis, tapi juga dari sisi spiritual dan kemanusiaan.

Dalam acara yang turut dihadiri Anton Sujarwo,Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum yang mewakili Bupati Sleman, hadir pula tiga narasumber utama: Agus Budi Rachman (Sekjen DPD PUTRI DIY), Dr. Mufti Nurlatifah, (Dosen FISIPOL UGM), serta Ketua DPD IWO Sleman, Yupiter Ome.Jum’at:27/06/2025

Salah satu pemikiran mendalam disampaikan oleh Agus Budi Rachman yang menekankan pentingnya keterhubungan dalam era digital ini. “Hari ini, segala sesuatu saling terhubung. Dalam spiritualitas, makna salat adalah keterhubungan—bukan hanya lima kali sehari, tetapi setiap detik, setiap tarikan napas. Jurnalisme pun harus menjadi penghubung, bukan sekadar penyampai informasi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa teknologi AI memang mampu menyampaikan data, namun manusia memiliki kemampuan unik untuk menyampaikan makna. “Inilah perbedaan antara sistem ego dan ekosistem. Dalam ekosistem, kita hidup berdampingan—dengan sesama, alam, dan semesta. Maka, AI seharusnya memperkuat ekosistem, bukan ego individu atau institusi.

Lebih jauh, Agus menjelaskan bahwa kita sedang berada di era transformasi kesadaran. Ia mengaitkan hal tersebut dengan simbolik angka spiritual: “Tahun 2025 jika dijumlahkan, 2+0+2+5 sama dengan 9. Begitu pula tahun 2034 dan 2043. Angka 9 dalam tradisi spiritual adalah simbol akhir sekaligus awal baru. Ini bukan kebetulan, tapi penanda masa transisi besar, termasuk dalam cara kita memahami teknologi.

Agus juga menyoroti pentingnya vibrasi pesan dalam jurnalisme modern. “Kita hidup di era frekuensi, di mana kata-kata, tulisan, dan informasi memiliki getaran energi. AI memang dapat memproduksi konten, tetapi manusialah yang menentukan apakah pesan itu memberi pencerahan atau justru menimbulkan kegelisahan.

Ia pun menutup paparannya dengan mengangkat filosofi Mandala Borobudur sebagai simbol keseimbangan hidup. “Bentuk lingkaran dan kotak pada Borobudur melambangkan harmoni antara arah dan elemen semesta. Jurnalisme masa depan harus seperti bunga teratai—tumbuh indah dari lumpur, menghasilkan cahaya dari keterbatasan.”
Menurut Agus, selama manusia tetap menjadi subjek yang sadar, AI tidak akan menjadi ancaman. “Yang membedakan kita dari mesin adalah rasa, kesadaran, dan koneksi batin. Jika itu masih kita pelihara, maka AI akan menjadi mitra, bukan pengganti,” pungkasnya.
Acara ini menjadi ruang refleksi bagi para jurnalis untuk mengembangkan peran mereka di era digital, tidak hanya sebagai pencari dan penyebar informasi, tetapi juga sebagai penjaga nilai, makna, dan kemanusiaan di tengah derasnya gelombang teknologi.(Tyo)
