
foto=Jemi Kanas Owner Wedang ereng-ereng minuman herbal, bersama istri
NASIONALTERKINI.COM. YOGYAKARTA. Perjalanan sebuah usaha sering kali tidak lahir dari kemudahan. Hal itulah yang dialami Jemi Kanas Owner Wedang ereng-ereng minuman herbal, yang berasal dari Ngerco RT 01, Seloharjo, Pundong, Bantul. Produk minuman rempah khas ini memiliki perjalanan panjang, penuh tantangan, serta semangat pantang menyerah.

Jemi Kanas menceritakan, awal perjalanan usahanya bermula pada akhir tahun 2010, ketika dirinya memutuskan untuk resign dari pekerjaan di perantauan. Pada awal 2011, ia kemudian menetap di Yogyakarta dengan harapan dapat membangun ekonomi dan masa depan yang lebih baik.

“Seperti anak muda pada umumnya, saya datang ke Jogja dengan penuh harapan. Saya mulai berinteraksi dengan masyarakat, aktif dalam kegiatan sosial, organisasi, dan kelompok masyarakat lainnya,” ujar Jemi saat ditemui di Kalimat Kopi, Jalan Nyi Pembayun No. 5, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (29/3/2026).

Perjalanan tersebut kemudian mempertemukannya dengan sosok penting yang turut membentuk langkah usahanya. Pada tahun 2016, Jemi bertemu dengan Irsyam Sigit Wibowo di kawasan objek wisata Jepang Suroloyo, Pundong. Dari pertemuan itu, Jemi mengetahui bahwa Irsyam merupakan pencipta wedang ereng ereng irsyam sigit wibowo dan juga pelaku usaha yang memiliki pengalaman di bidang pariwisata dan kuliner, seperti HS Silver di Kotagede, restoran Omah Dhuwur, serta kafe Sisi Selatan.
Dalam pertemuan tersebut, Irsyam menawarkan Dukungan Pembinaan untuk membantu mengangkat potensi wisata di kawasan Pundong melalui pendekatan masyarakat. Namun, upaya awal tersebut menemui kendala karena respons masyarakat masih terbatas.
Akhirnya, Jemi diminta untuk memulai dari dirinya sendiri sebagai contoh bagi masyarakat. Dari situlah, ia mulai merintis kedai kuliner di kawasan lereng perbukitan yang kemudian diberi nama Warung Ereng-Ereng pada akhir 2016.
Dalam proses merintis usaha tersebut, Jemi mendapatkan banyak pembelajaran langsung. Ia diajak mengunjungi berbagai destinasi wisata kuliner, seperti Kopi Suroloyo, kedai kopi di Perbukitan Menoreh, hingga wisata kuliner di kawasan Merapi. Dari sana, Jemi memperoleh wawasan tentang pengelolaan wisata berbasis kuliner dan lingkungan.
Meski sempat ragu karena keterbatasan modal, dukungan dan pendampingan membuatnya tetap melangkah. Warung Ereng-Ereng pun mulai dikenal dengan berbagai menu khas, seperti sego sangit, ingkung daun pisang, serta minuman segar berbahan rempah dan buah yang kemudian dikenal sebagai Wedang Ereng-Ereng.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Pada pertengahan 2018, usaha Warung Ereng-Ereng terpaksa tutup karena Jemi harus fokus merawat orang tuanya yang sakit selama hampir dua bulan.
“Waktu itu saya sangat sedih, karena warung sudah mulai dikenal. Bahkan pengunjungnya juga banyak dari kalangan seniman dan budayawan,” kenangnya.
Meski demikian, semangatnya tidak padam. Jemi kemudian mencoba mengembangkan Wedang Ereng-Ereng dalam bentuk kemasan kering agar lebih tahan lama. Ia melakukan riset mandiri selama hampir dua tahun, mulai dari proses pengeringan buah, peracikan rempah, hingga menentukan masa kedaluwarsa produk.
Pada 2019, Jemi juga mendapatkan pendampingan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui program pengembangan potensi produk lokal. Bahkan, Wedang Ereng-Ereng sempat direncanakan menjadi minuman khas desa, meski program tersebut tidak berlanjut secara berkelanjutan.
Tidak ingin berhenti, Jemi akhirnya mengambil langkah mandiri dengan mengurus legalitas produk, mulai dari pendaftaran merek, sertifikasi halal, hingga izin edar PIRT.
Kini, Wedang Ereng-Ereng hadir dalam dua varian utama, yakni pisang raja dan jeruk nipis, dengan kombinasi rempah seperti jahe, serai, kapulaga, kayu manis, dan daun pandan. Produk ini juga menggunakan gula batu sebagai pemanis alami dengan masa simpan hingga enam bulan.
Menurut Jemi, keunikan Wedang Ereng-Ereng terletak pada kombinasi antara rempah dan sari buah, yang berbeda dengan minuman rempah pada umumnya.
“Saya ingin menghadirkan minuman rempah yang tidak hanya hangat, tetapi juga memiliki cita rasa segar dari buah asli,” katanya.
Saat ini, pemasaran Wedang Ereng-Ereng masih dilakukan secara terbatas melalui reseller, media sosial, serta penjualan langsung. Produk Wedang Ereng-Ereng juga sudah bisa dibeli langsung di Kalimat Kopi, Kotagede, Yogyakarta.
Selain itu, pemesanan juga dapat dilakukan melalui Instagram @sendejane serta Facebook Waroeng Ereng-Ereng.
Meski masih dalam tahap pengembangan, Jemi menyimpan harapan besar untuk kembali merintis Warung Ereng-Ereng sebagai destinasi kuliner khas di kawasan lereng Pundong.
“Harapan saya sederhana, Wedang Ereng-Ereng bisa berkembang dan suatu saat Warung Ereng-Ereng bisa saya bangun kembali. Saya ingin produk ini menjadi kebanggaan daerah dan memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.Jemi(Tyo)
Redaksi=
terkininasional@gmail.com
