Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Tradisi Labuhan Merapi, Suraksohargo Asihono : Saya Berharap tidak Ada Keburukan

Tradisi Labuhan Merapi adalah sebuah upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, khususnya yang tinggal di sekitar Gunung Merapi. Upacara ini biasanya dilakukan untuk memohon keselamatan dan keberkahan dari Gunung Merapi, yang dianggap sebagai tempat tinggal roh atau tempat bersemayamnya dewa/dewi dalam kepercayaan lokal.

NASIONALTERKINI– Tradisi Labuhan Merapi adalah sebuah upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, khususnya yang tinggal di sekitar Gunung Merapi. Upacara ini biasanya dilakukan untuk memohon keselamatan dan keberkahan dari Gunung Merapi, yang dianggap sebagai tempat tinggal roh atau tempat bersemayamnya dewa/dewi dalam kepercayaan lokal.

Dalam tradisi ini, masyarakat melakukan pemberian sesaji atau persembahan kepada gunung, seperti bunga, buah, dan sesaji lainnya, sebagai bentuk penghormatan dan permohonan agar terhindar dari bencana alam seperti letusan gunung api.

Tradisi Labuhan Merapi merupakan bagian dari warisan budaya yang masih dijaga dan dilakukan oleh masyarakat Jawa hingga saat ini.

Tradisi Labuhan Merapi memiliki akar yang kuat dalam kebudayaan Jawa, terutama pada masa Kerajaan Mataram Islam. Pada masa tersebut, Labuhan Merapi diyakini sebagai bagian dari upacara keagamaan dan kepercayaan masyarakat Jawa yang melambangkan penghormatan kepada kekuatan alam, termasuk gunung-gunung yang dianggap suci.

Selama masa Kerajaan Mataram Islam, upacara Labuhan Merapi kemungkinan besar telah diadopsi atau disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, meskipun masih mengandung unsur-unsur kepercayaan tradisional Jawa.

Dalam konteks Kerajaan Mataram Islam, Labuhan Merapi dapat dilihat sebagai bagian dari upaya untuk memperoleh perlindungan dan berkat dari Tuhan yang dinyatakan dalam bentuk persembahan kepada gunung yang dianggap suci.

Meskipun Islam mengajarkan keesaan Tuhan, kepercayaan dan praktik-praktik tradisional Jawa masih bertahan dan terkadang diselaraskan dengan ajaran Islam.

Sebagai hasilnya, Labuhan Merapi mungkin telah menjadi simbol integrasi antara kepercayaan tradisional Jawa dan ajaran Islam pada masa Kerajaan Mataram Islam.

Kraton Yogyakarta, sebagai salah satu pusat kebudayaan dan tradisi Jawa, juga memiliki tradisi Labuhan Merapi. Upacara ini biasanya dilakukan sebagai bagian dari rangkaian upacara adat yang diadakan oleh Kraton Yogyakarta.

Labuhan Merapi yang dilakukan oleh Kraton Yogyakarta seringkali memiliki makna yang mendalam, tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Gunung Merapi, tetapi juga sebagai upaya untuk mempertahankan dan merawat tradisi leluhur serta memperkokoh hubungan spiritual antara manusia dan alam.

Upacara Labuhan Merapi diadakan secara rutin atau dalam keadaan tertentu, tergantung pada kebijakan dan tradisi yang berlaku di Kraton Yogyakarta pada saat itu.

Juru Kunci Merapi Suraksohargo Asihono menjelaskan, pelaksanaan Labuhan Merapi tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Adapun tahapannya diawali pada hari Senin (11/2) dengan upacara serah terima uba rampe labuhan di Pendapa Kantor Kapanewon Cangkringan.

Pada hari itu juga dilakukan arak-arakan menuju petilasan Mbah Maridjan, pentas seni, perebutan gunungan, doa bersama, hingga pagelaran wayang kulit sampai malam suntuk.

Sementara untuk hari kedua Senin (12/2) kegiatan dilanjutkan dengan membawa uba rampe dari petilasan Mbah Maridjan menuju bangsal Sri Manganti oleh abdi dalem Kraton Yogyakarta. Di lokasi itu juga prosesi Labuhan Merapi dilakukan. “Untuk pelaksanaannya sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada yang berbeda,” ujar Mbah Asih sapaan akrabnya, Senin (12/2). 

Mbah Asih mengatakan harapan khusus di tengah tahun tahun politik Tidak ada harapan khusus (di tahun politik), karena (Labuhan Merapi) memang tidak ada kaitannya. “Saya, berharap perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta berharap tidak ada keburukan,”ucapnya. (edu/cyo)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *