Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Rangkaian Labuhan Dimulai, Bupati Sleman Terima Ubarampe

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menerima Ubarampe Labuhan Merapi dari utusan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X yang kemudian diserahkan kepada juru kunci Merapi yakni Wedono Surakso Hargo Asihono. Serah terima Ubarampe Labuhan Merapi dilaksanakan pada Minggu, (11/2) di kantor Kapanewon Cangkringan.

NASIONALTERKINI – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menerima Ubarampe Labuhan Merapi dari utusan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X yang kemudian diserahkan kepada juru kunci Merapi yakni Wedono Surakso Hargo Asihono. Serah terima Ubarampe Labuhan Merapi dilaksanakan pada Minggu, (11/2) di kantor Kapanewon Cangkringan.

Labuhan Merapi adalah tradisi rutin tahunan dalam rangka memperingati Tingalan Jumenengan Dalem atau ulang tahun kenaikan tahta Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Adapun ubarampe yang diserahterimakan terdiri dari Sinjang Kawung Kemplang, Semekan Gadung, Semekan Gadung Mlati, Kampuh Paleng, Desthar Daramuluk, Desthar Udaraga serta Arta Tindih dan lainnya.

Setelah prosesi serah terima, ubarampe tersebut dibawa ke petilasan Mbah Maridjan yang berada di Kinahrejo dan akan dibawa ke Bangsal Sri Manganti di Gunung Merapi untuk prosesi labuhan pada Senin (12/2) esok hari.

Kustini menyambut baik dengan pelaksanaan tradisi labuhan merapi ini. Tak hanya sekadar tradisi, menurutnya labuhan merapi menjadi bentuk syukur manusia kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan karunia yang telah diberikan.

“Melalui tradisi labuhan merapi ini menunjukkan sikap gotong royong, guyub rukun, golong gilig dan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus memperingati Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kustini merasa bangga dengan antusiasme masyarakat Sleman dalam menyambut dan berpartisipasa dalam upacara adat labuhan merapi ini. “Labuhan merapi menjadi pembuktian bahwa upacara adat labuhan merapi masih sangat mengakar pada masyarakat dan relevan untuk dilakukan sampai saat ini, karena memiliki filosofi yang bijaksana dan mengandung nilai luhur serta mencerminkan masyarakat Yogyakarta yang agamis, humanis, dan berbudaya,”katanya.(cio/bim)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *