Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Masyarakat Tumpah Ruah Ikuti Lelaku Malam 1 Suro Dengan Mubeng Benteng Kraton Yogyakarta

NASIONALTERKINI.Tumpah Ruah Ribuan warga dan wisatawan mengikuti dengan khidmat perayaan malam 1 Suro pada prosesi Mubeng Beteng Kraton Yogyakarta, Minggu (7/7/2024).

Merayakan malam tahun baru Jawa atau 1 Suro (1 Muharom), tradisi ini digelar oleh Paguyuban Abdi Dalem Kraton Yogyakarta. Selepas isya, prosesi Mubeng Beteng dimulai dengan melantunkan macapat, tembang Jawa berisi nasehat atau petuah bijak, yang diadakan di halaman Kamandungan Lor atau Keben Kompleks Keraton Yogyakarta. Paguyuban Abdi Dalem menyebutkan bahwa pelaksanaan Mubeng Beteng Kraton Yogyakarta adalah tradisi setiap malam 1 Suro atau 1 Hijriah di masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta.

Kusumonegoro, salah satu abdi dalem yang juga panitia, menjelaskan bahwa Mubeng Beteng merupakan cara masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta, dalam menyambut tahun baru dengan kekhusyukan dan keheningan. “Mubeng Beteng tahun ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya, sebagai cara masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta dalam menyambut malam pergantian tahun dengan kekhusyukan dan keheningan. Prosesi ini dengan berdoa tentu saja, agar tahun yang akan datang bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” Paparnya

Masyarakat umum maupun wisatawan bisa menyaksikan dan mengikuti prosesi ini dengan ketertiban dan menghormati jalannya Mubeng Beteng. Kusumo menambahkan, “Ya, prosesi Mubeng Beteng lampah budaya ini bisa diikuti masyarakat umum, tapi tentu saja kami dari panitia mohon tetap mengutamakan kesopanan dalam berbusana, kesopanan dalam tutur kata, perilaku, dan seterusnya.”

Warga yang mengikuti prosesi ini, seperti Innes dan Vira dari Gedongkuning, Kota Yogyakarta, mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi Mubeng Beteng Kraton Yogyakarta. Mereka berharap dengan mengikuti laku budaya ini bisa ikut melestarikan tradisi Jawa dan berharap tahun depan kehidupan bangsa dan negara bisa lebih baik. “Iya baru pertama ini ikut, saya sebagai orang Jawa, warga Yogyakarta ya harus tahu juga sejarah Keraton, juga budayanya. Semoga doa saya tahun depan bisa diberi kesehatan, keselamatan dan sukses apa yang dicita-citakan. Semoga negara ini juga bisa lebih aman damai dan maju,” jelas Innes dan Vira.

Prosesi Mubeng Beteng diawali dengan lantunan tembang macapat di Halaman Kamandungan Lor (Keben) Kompleks Keraton Yogyakarta. Tradisi Mubeng Beteng merupakan bagian tirakat lampah ratri atau munajat kepada Allah SWT dengan berjalan kaki mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta, tepat dimulai Jam 00.00Wiib malam 1.Suro.(Tyo)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *