Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Marak Pembunuhan Mutilasi Sosilog UWM: Galau Hadapi Tekanan Sosial

JOGJABERITA

JOGJABERITA– Peristiwa kekerasan hingga pembunuhan belakangan ini kerap terjadi. Terakhir, pembunuhan disertai dengan mutilasi seorang perempuan ditemukan di Kalurahan Pakembinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Minggu (19/3). Sosiolog Universitas Widya Mataram Mukhijab menuturkan peristiwa tersebut bisa terjadi lantaran adanya masalah sosial.

“Problem sosial seperti apa? Misalnya tentang ekonomi. Seolah-olah ekonomi baik-baik saja. Tetapi masyarakat melihat dan merasakan bagaimana perubahan harga bahan pokok, dan sebagainya. Itu menjadi bagian dari tekanan,” ujar Mukhijab saat dihubungi, Selasa (21/3).

Dia menambahkan ada juga situasi sosial lainnya. Misalnya, banyaknya pejabat publik yang belakangan justru pamer kekayaan. Di saat masih ada sebagian masyarakat yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih terbilang kesulitan.

“Ada semacam kesenjangan yang mereka rasakan menekan situasi kehidupan mereka. Jadi, ada situasi semacam itu membuat mereka galau. Mereka kehilangan orientasi makna hidup. Mau seperti apa, ke mana, kok hidup kaya begini,” katanya.

Menurut Mukhijab, merasa galau akan tekanan sosial bisa mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan di luar batas wajar. Ditambah lagi mereka merasa tak menemui jalan keluar. Juga tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan cara baik-baik. Jadilah cara kekerasan hingga pembunuhan dilakukan sebagai jalan pintas.

“Situasi yang tidak baik-baik saja itu berpengaruh pada perilaku individu itu. Mereka tidak tahu menghadapi persoalannya sendiri. Tetapi karena tekanan-tekanan eksternal dari ekonomi, sosial, membuat mereka itu masa bodoh,” katanya.

Mukhijab menambahkan, peristiwa kekerasan hingga pembunuhan dan mutilasi tak hanya terjadi di Yogyakarta saja. Korbannya juga terbilang acak. Bahkan bisa jadi korban masih memiliki hubungan keluarga dengan pelaku. Ini juga menurutnya menjadi satu dilema fenomena sosial. Disatu sisi ingin tercipta keluarga yang harmonis. Namun, disisi lain adanya tekanan eksternal menjadikan emosi mudah tersulut.

“Karena kalau diperpanjang dengan menjalin hubungan, ada problem sosial dan ekonomi. Sementara sebenarnya mereka butuh membangun keluarga, tapi ada dilema.

Dan mungkin mereka istilahnya sangat emosional atau mereka berpikiran picik. Sehingga ambil jalan pintas itu yang dianggap terbaik,” tuturnya.

Selain ekonomi, ada lagi faktor pendorong lain bagi seseorang untuk melakukan kekerasan hingga pembunuhan. Misalnya latar belakang pendidikan, relasi sosial, dan faktor spiritual.

“Bisa jadi pendidikan mereka tinggi, tapi aspek spiritual mereka keagamaan rendah, itu berpengaruh,” katanya. (ang/een)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *