Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Kepsek SDN Purwomartani Temui DES di Kantor Disdik Sleman, Usai Ada Dugaan Intimidasi

Kepsek SDN Purwomartani Temui DES di Kantor Disdik Sleman, Usai Ada Dugaan Intimidasi

JOGJABERITA– Seorang wali murid berinisial DES mengaku menerima tindakan intimidasi yang dilakukan kepala sekolah dan komite di sekolah anaknya, yakni SDN Purwomartani.
Intimidasi terjadi saat DES mendapatkan pesan singkat dari dua nomor tidak dikenal.

Pesan tersebut berisi sanggahan atas proposal pembangunan sarana dan prasarana sekolah yang diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp 300 juta.


DES lantas meneruskan pesan singkat tersebut ke grup paguyuban orang tua. Tujuannya untuk menanyakan apakah pesan tersebut juga diterima oleh wali murid lainnya. 

Bukan penjelasan yang didapat, DES justru diminta datang ke sekolah untuk bertemu kepala sekolah. 


Pada kesempatan itu, DES merasa menerima intimidasi dan dicecar dengan berbagai pertanyaan.

Kepala SDN Purwomartani Lasini km menjelaskan  adanya tindakan intimidasi pihaknya hanya meminta DES untuk mencari pemilik dua nomor tidak dikenal pengirim pesan singkat yang dikirim kepadanya. 

Baginya, ini merupakan persoalan internal sekolah dengan wali murid, sehingga penyelesaian tak perlu melibatkan pihak luar.
“Sekali lagi pertemuan ini bukan dalam rangka menyudutkan atau menuduh.

Justru kami ingin bekerja sama dengan bu DES dalam rangka mencari nomor atau pemilik nomor yang mengirim WA ke bu DES,” katanya saat ditemui di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Kamis (3/11).


Lasini mengaku tak mau masalah ini menjadi berlarut-larut dan berkepanjangan. Usai klarifikasi, dia lantas menyampaikan permohonan maaf sekaligus berkomitmen untuk tidak mengulangi tindakan yang dituduhkan.

Anak dari DES juga dipastikan tetap mendapatkan perlakuan yang sama dengan siswa-siswa lainnya. Dia berharap, kejadian ini dapat diselesaikan dengan tuntas agar tak mengganggu proses kegiatan belajar mengajar di SDN Purwomartani.

“Bagi kami ini masalah internal sekolah, sehingga akan kami selesaikan secara kekeluargaan. Kami juga tidak punya niatan untuk melapor ke polisi. Pada prinsipnya, sekolah tidak ada intimidasi, tidak ada penuduhan“ tegasnya.

Katarina Susi sebagai pendamping DES menuturkan, sebelumnya laporan terkait kejadian ini telah dilayangkan ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIY pada Senin lalu (31/1). 

Katarina meminta agar tak ada lagi tindakan-tindakan intimidasi yang terjadi di lingkungan sekolah. Menurutnya, ini merupakan salah satu bentuk dari kekerasan verbal.

“Intimidasi tidak boleh dilakukan di sekolah, terutama kepada para perempuan. Sudah ada undang-undangnya juga. Marilah hindarkan sekolah dari kekerasan verbal apapun pada semua warga sekolah,” katanya. (ong/red)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *