Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Gama Melon Parfum, dari Produk Gagal Hingga Jadi Bahan Kosmetik

Gama Melon Parfum, dari Produk Gagal Hingga Jadi Bahan Kosmetik

JOGJABERITA– Dekan Fakultas Biologi UGM Budi Setiadi Daryono mengabdikan diri selama 25 tahun terakhir untuk fokus melakukan penelitian tentang melon. Selama itu, ada sebanyak 16 produk inovasi melon edible dan satu melon non-edible. 

Satu produk melon non-edible itu adalah Gama Melon Parfum (GMP). Bentuknya bulat kecil dan ada tonjolan di bagian atasnya. GMP memiliki rasa yang pahit sehingga tidak enak untuk dikonsumsi. Ini merupakan hasil persilangan antara indukan NO3 dengan MR5.

Kultivar ini mempunyai karakter fenotip ukuran buah kecil, kulit buah berwarna hijau, dan terdapat ornament unik. Rasanya pahit, tetapi memiliki aroma yang sangat wangi. 

Dalam satu tanaman dapat dikembangkan 4 hingga 10 buah sehingga dapat diperoleh buah dalam jumlah banyak.

Berat per buahnya antara 50 gr hingga 4 ons. Sementara untuk masa panen membutuhkan waktu sekitar 55 hingga 58 hari.


Budi menyebut, awalnya GMP diciptakan untuk bisa dimakan. Namun, karena ada kesalahan dalam menggabungkan formulasi sehingga menghasilkan rasa yang pahit.

Tak mau berhenti di situ, Budi terus memutar otak untuk mencari cara agar GMP bisa dimanfaatkan.

“Riset itu kadang tidak seperti yang kita inginkan. Saya tanam kok pahit, berarti tidak bisa dimakan. Ini termasuk saya agak kecewa. Mengapa tidak seperti yang saya harapkan.

Kemudian saya improve juga sama dagingnya tipis, tidak begitu enak,” kata Budi ditemui di Fakultas Biologi UGM, Senin (9/1).

Seiring berjalannya waktu, Budi berhasil mengambil kesimpulan satu keunggulan GMP yaitu kemampuannya dalam mengusir nyamuk. Ini dibuktikan setiap dia membawa GMP saat mengunjungi lahan, tak ada nyamuk yang mendekat.

Lantas dia membuat GMP menjadi bahan obat nyamuk oles. GMP juga dimanfaatkan sebagai abate atau penghancur jentik nyamuk. 
Namun, upaya Budi ini tak semulus yang dia harapkan. Dia sempat mandeg.

Produk obat nyamuk oles dan abate besutannya tak mendapat perhatian yang cukup dari kalangan industri.

Lalu, Budi terus mencari celah untuk memanfaatkan GMP. Hingga akhirnya dia bertemu dengan pelaku industri kosmetik. GMP akhirnya dimanfaatkan menjadi bahan pembuat sampo dan parfum. 

Mengingat GMP memiliki aroma harum yang kuat dengan sentuhan aroma buah. Ini juga sebagai bahan substitusi parfum yang menggunakan bahan sintetis dan cenderung tidak ramah lingkungan.

“Dia (industri) memberi challenge, saya jawab ‘why not’? Sampo ini di market place Rp 90 ribuan. Karena ini murni tanpa SLS, risetnya panjang dan laku kalau dieksport. Kalau di luar negeri sampo sudah tidak boleh pakai SLS,” katanya. (ong/evi)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *