Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Dosen UMY Jadi Desainer Indonesia Global Halal Fashion

Puthut Ardianto, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa (FPB) Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjadi salah satu dari sembilan desainer pada Launching Indonesia Global Halal Fashion di Indonesia Fashion Week (IFW) 2024.

NASIONALTERKINI– Puthut Ardianto, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa (FPB) Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjadi salah satu dari sembilan desainer pada Launching Indonesia Global Halal Fashion di Indonesia Fashion Week (IFW) 2024.

Peluncuran ini untuk mengawali (kick off) kegiatan pagelaran fesyen busana (roadshow fashion show) yang akan dilakukan pada ajang fesyen ternama di lima negara yaitu New York Fashoin Week, Paris Fashoin Week, London Fashoin Week, Turkey Fashoin Week, Dubai Fashoin Week dan Jakarta Muslim Fashion Week mulai tahun 2024 sampai 2025.

Puthut menyampaikan kesan yang luar biasa atas partisipasinya pada acara tersebut karena namanya disandingkan dengan jajaran desainer senior yang memiliki pengalaman puluhan tahun.

“Luar biasa sekali, hanya sembilan desainer dan nama saya masuk ke dalam jajaran desainer senior yang pengalamannya sudah belasan tahun. Jika dibandingan dengan saya yang belum lama di dunia fesyen, tentunya ini menjadi sebuah kebanggan,” ungkap Puthut saat ditemui oleh tim Humas UMY pada Rabu (3/4).

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) pada Indonesia Global Halal Fashion ini mencanangkan dan menginisiasi produk Kain Halal. Pada tahun 2024, produk non makanan juga harus bersertifikasi halal termasuk produk fesyen yang bahan utamanya adalah kain sehingga ke depannya ada sertifikasi kain halal.

Pada promosi kain halal tahun ini, Puthut membawakan tema Mesir (Egypt) dengan memadukan kain halal dengan konsep tie die dan kain jumputan. Puthut pun menjadi lebih yakin karena bahan dasar kain yang digunakan dibuat sendiri dengan teknik mencetak kain dengan bahan alami yang ada di sekitar (ecoprint).

“Tidak ada yang menyamai kriya saya, karena saya membuat kainnya dari nol dengan teknik ecoprint. Bisa membanggakan, kain yang dibuat sendiri dengan konsep slow movement fashion (kualitas berkelanjutan dan usia pakai produk fesyen yang panjang-red),” kata Puthut.

Acara ini mendukung Leading Global Halal Forum dengan mengadakan parade busana (fashion show) dalam mempromosikan kain halal. Pada kesempatan ini Puthut memamerkan tiga desain busana ecoprint berbahan dasar kain halal yang diperagakan langsung oleh model di IFW pada Kamis (28/3) lalu di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.

Konsep kain halal dengan teknik ecoprint yang dibawakan Puthut juga sangat memerhatikan lingkungan karena tidak sama sekali memakai bahan hewani. “Secara environment friendly sangat dijaga ditambah konsep yang dibawa adalah ecoprint dan jumputan tidak menggunakan kayu-kayuan dan hanya menggunakan daun. Jadi tidak akan dan tidak pernah menebang pohon,” jelas Puthut.

Lebih lanjut Puthut berharap para pengrajin fesyen dapat meningkatkan kreativitas mereka dengan adanya sertifikasi kain halal. “Dengan munculnya sertifikasi halal pada produk fesyen tidak menjadi penghalang para pengerajin busana untuk lebih meningkatkan kreativitas mereka. Kenapa harus halal karena mayoritas penduduk di Indonesia muslim jadi konsumen tidak ragu-ragu lagi untuk membeli produk tersebut karena sudah halal,” pungkasnya. (bio/cyu)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *