Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Antisipasi Antraks, Hewan Ternak Warga GayamHarjo di Vaksinasi

Guna mengantisipasi penyebaran penyakit antraks Hewan Ternak Ruminansia di padukuhan Kalinongko Kidul, Kalurahan Gayamharjo, Prambanan dilakukan vaksinasi.

NASIONALTERKINI– Guna mengantisipasi penyebaran penyakit antraks Hewan Ternak Ruminansia di padukuhan Kalinongko Kidul, Kalurahan Gayamharjo, Prambanan dilakukan vaksinasi.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nasrullah, beserta rombongan dari Kementerian Pertanian RI Nasrullah menyebut bahwa antraks merupakan penyakit yang berbahaya. Sebab penyakit yang menjangkiti hewan ini dapat menular ke manusia. Untuk itu penyakit ini perlu segera diberantas, salah satunya dengan cara melakukan vaksinasi kepada hewan-hewan ternak. Jangan ada yang menjual atau mengkonsumsi hewan yang sakit atau mati. Ini bisa menularkan penyakit.

“Untuk hewan yang mati karena antraks, ada SOP pemusnahannya, yakni dikubur kedalaman dua meter, dikasih formalin, kapur, ditutup, lalu disemen,” ujarnya usai menghadiri vaksinasi antraks.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, menyampaikan bahwa kasus antraks di Kabupaten Sleman sudah terkendali dan sudah ditangani dengan baik. Namun demikian Kustini tetap mengimbau masyarakat untuk membawa ternaknya ke Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan) terdekat apabila ternaknya mengalami penyakit. Dengan begitu akan dapat dilakukan upaya mitigasi lebih lanjut apabila ternak tersebut terjangkit antraks.

Pemkab Sleman telah melakukan upanya desinfeksi di lingkungan kandang ternak yang positif antraks. Pemkab Sleman juga telah memusnahkan daging ternak yang terkena antraks sesuai prosedur yang ada.

Upaya lain yang dilakukan Pemkab Sleman adalah pengobatan dan pemberian vitamin terhadap ternak sapi 143 ekor serta 224 kambing dan domba, yang berada di sekitar lokasi kasus, untuk melindungi ternak yang ada. Mengingat lokasi di sekitarnya sudah ternak yang terpapar.

“Pemkab Sleman juga melakukan vaksinasi Antraks pada ternak sapi, domba dan kambing yang berada pada zona kuning, meliputi Dusun Nawung, sebagian Dusun Kalinongko Kidul dan sebagian Dusun Kalinongko Lor,” terangnya.

Sementara itu Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, R. Hery Sulistio Hermawan menuturkan bahwa kasus kematian ternak akibat antraks pertama muncul pada 2 Februari 2024. Namun hal tersebut tidak dilaporkan kepada pihak berwenang. Kasus kematian ternak ini terus terjadi dan membuat warga resah.

Sehingga pada tanggal 7 Maret 2024, Kepala Dukuh Kalinongko Kidul melaporkan kejadian tersebut kepada Puskeswan Prambanan dan kemudian ditindaklanjuti. “Alhamdulillah sudah tidak ditemukan penampakan kasus kematian ternak diduga antraks sejak 8 sampai 15 Maret 2024,” ucapnya. (eki/wee)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *