Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

687,5 Kg Kerupuk Mengandung Boraks Dimusnahkan

Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogya Veronica Ambar Ismuwardani mengungkapkan sebanyak 29 pasar menyumbang suplai sampah hingga 10 persen dari total produksi sampah di Kota Yogya

JOGJABERITA– Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Yogya melakukan pemusnahan terhadap 687,5 kg kerupuk yang mengandung boraks di Pasar Giwangan, Rabu (18/1).

Kepala Disdag Kota Yogya Veronica Ambar Ismuwardani menjelaskan barang bukti didatangkan dari Madiun. Sebelumnya, pemantauan dan penindakan telah dilakukan di distributor yang sama.

Meski saat itu telah ditindak, Disdag Kota Yogya masih saja menemui peredaran kerupuk mengandung boraks di pasar-pasar lainnya. Lalu penindakan kembali dilakukan untuk memberikan efek jera kepada distributor. Pihaknya tak menempuh jalur hukum. Hanya sebatas edukasi dan upaya persuasif yang dilakukan.

“Dengan kesepakatan bersama, yang bersangkutan mengakui kesalahannya, menyerahkan barangnya ke Dinas Perdagangan untuk dimusnahkan,” kata Ambar ditemui di Pasar Giwangan, Rabu (18/1).

Ambar menyebut perlindungan konsumen menjadi hal yang paling penting. Selain gencar melakukan pemantauan dan penindakan, ada inovasi lainnya berkaitan dengan keamanan pangan.

Inovasi tersebut adalah pojok test kit. Masyarakat bisa melakukan pengecekan langsung terhadap belanjaannya. Saat ini pojok test kit baru tersedia di Pasar Prawirotaman.

Ke depan, jumlah test kit akan ditambah dan diharapkan bisa tersedia di seluruh pasar di Kota Yogya.

“Kalau mereka ragu dengan keamanan pangannya mengandung boraks atau formalin, masyarakat bisa melakukan itu (test) di pojok test kit kami yang ada di Pasar Prawirotaman. Tahun ini akan ditambah di Pasar Beringharjo,” ujarnya.

Kepala Balai Besar POM DIY Trikoranti Mustikawati menjelaskan efek buruh pada boraks tak terjadi seketika pada tubuh. Hanya saja, jika terus menerus dikonsumsi bahan tersebut akan terakumulasi di dalam tubuh.

Inilah yang kemudian bisa menyebabkan berbagai penyakit. Salah satunya yang paling parah adalah penyakit kanker.

“Ini yang cukup membahayakan. Jangan sampai dampak itu terjadi beberapa tahun kemudian,” katanya. (iin/eko)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *