Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

110 Seniman Indonesia Sajikan Perpaduan Kaligrafi Batik dan Kaligrafi Kontemporer di Leman Art House

Sebanyak 110 seniman asal Indonesia mengikuti Pameran kaligrafi berlabel Kaligrafi Batik dan Kaligrafi Kontemporer di Leman Art House kawasan Purwomartani, Kalasan, Sleman mulai Kamis (11/1) hingga Jumat (26/1).

NASIONALTERKINI– Sebanyak 110 seniman asal Indonesia mengikuti Pameran kaligrafi berlabel Kaligrafi Batik dan Kaligrafi Kontemporer di Leman Art House kawasan Purwomartani, Kalasan, Sleman mulai Kamis (11/1) hingga Jumat (26/1).

Rektor UIN Suka Yogyakarta Al Makin menuturkan  Perkembangan Kaligrafi sangat cepat, Kaligrafi ada jauh sebelum Islam.

Khusus untuk Indonesia spesial karena Indonesia Kaligrafi dipadukan antara Kaligrafi Tradisional yang berkembang di Arab, Persia, Eropa, Turki dan Mesir. Di Indonesia di campur Seni Lukis mulai dari aliran Ekspresionisme, Impresionisme,  Abstrak, Surealisme digabung.

Cara menikmati orang melukis mana yang buat kita bahagia nikmati, mana yang kita binggung tunggu dulu,kalau tidak paham tidak apa- apa ,seniman yang bikin juga tidak paham.Cara memberi Interpretasi, bayangkan sebebas-bebasnya,”ujarnya Kamis (11/1).

Ketua Panitia Pameran Kraligrafi Batik dan Kaligrafi Kontemporer, Endang Apriyanto menjelaskan, akhir-akhir ini jarang sekali pameran kaligrafi tingkat nasional bisa digelar, apalagi sejak ada pandemi Covid-19.

“Suatu hal sangat kami syukuri saat ini kita memberanikan diri untuk menggelar karya. Lebih khusus karya-karya kaligrafi batik dan kontemporer,” paparnya.

Endang mengatakan kaligrafi termasuk karya seni yang selalu lekat dengan dzikrullah maupun ajaran-ajaran kebajikan. “Setiap kita meniti setiap karya kaligrafi, mata batin kita tergerak untuk menyatakan perasaan begitu besarnya karunia Illahi. Inilah kekuatan seni rupa kaligrafi yang kita usung dalam pameran ini,” terangnya.

Sedangkan Kurator Hadjar Pamadhi  sebagai kurator mengungkapkan, kegiatan pameran kaligrafi bisa sebagai ekspresi seni rupa memanfaatkan media kain dengan teknik batik lukis.

Bisa pula berwujud lukisan di atas kanvas, aksara timbul (seni tiga dimensi) yang bebas menginterpretasikan keindahan aksara. Karya-karya yang dipamerkan dapat pula dikelompokan menjadi empat ‘langgam.’

Pertama, keindahan aksara dan kata ditampilkan dalam bentuk alfabet. Kedua, tulisan indah dengan cengkok khas perupanya; goresan aksara dan kata digayakan sesuai dengan niatan rasa estetikanya, maka logografnya lebih kuat daripada visi ekspresi spontannya.

Ketiga, aksara indah yang dihadirkan melalui kontemplasi suci berangkat dari ayat suci Alquran dalam pengembaraan batin perupa menginter pretasi objek formalnya sesuai dengan Khat.

Keempat, aksara sebagai representasi figur, sehingga ujud yang dihadirkan merupakan simbol-simbol batin hasil pencarian makna dan esensi dari sebuah bentuk atau figur tersebut.

Sementara itu, salah satu perupa asal Pendowoharjo Sleman, Chamit Arang mengungkapkan merasa bersyukur dapat mengikuti pameran Kaligrafi Batik dan Kaligrafi Kontemporer tersebut.

Menurutnya, dari sekitar 110 seniman ada beberapa seniman terkenal seperti Gus Mus, Butet Kertarajasa, I Gusti Nengah Nurata, Syaiful Adnan, Nasirun, Hendra Buana dan Budi Ubrux.

“Masih banyak lagi seniman ternama lain asalnya dari Indonesia. Namun, tidak semua mengirimkan karya kaligrafi untuk diikutkan bursa,” ungkap Chamit. (sky/eng)

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *